Senin, 03 Maret 2008

Rantai Bumi

Rabu, 17 Mei 2006 . BUDAYA
Film Laga dalam Kepungan Drama
JAKARTA - Satu lagi film Indonesia siap diluncurkan ke pasaran. Film Rantai Bumi besutan Purnomo A Chakil itu agak menyempal dari genre film kebanyakan. Film laga itu memasang paranormal Ki Kusumo sebagai pemeran utama. Film produksi Putra Kusuma Production berdurasi 90 menit itu dipenuhi adegan baku pukul, baku tembak, dan kebut-kebutan, dengan bumbu ledakan di sana-sini. High light di Musro, Hotel Borobudur, Jakarta, kemarin, dihadiri para pendukung utama, seperti Torro Margens, Ki Kusumo, Kiki Amalia, dan Marcellino. Alkisah, Rantai Bumi atau Rantai Bsabi dipercaya sebagai mustika yang memiliki kekuatan mahadahsyat dan membuat digdaya sang pemilik. Perebutan mustika itulah yang menjadi sentral penceritaan. Film itu akan diedarkan mulai 1 Juni. "Kami mengangkat legenda itu semata-mata karena keprihatinan melihat generasi muda lebih kenal legenda mancanegara," kata Ki Kusumo yang juga menjadi produser. Nasib Baik . Apakah film itu bakal diterima penonton Indonesia di tengah kepungan film drama remaja seperti Eskul, Heart, D'girls Begins, Gue Kapok Jatuh Cinta, hingga Maskot? Ki Kusumo menjawab, "Setiap film mempunyai nasib masing-masing. Saya yakin film ini bernasib baik dan akan mendapat sambutan positif." Torro Margens, aktor senior yang menjadi tokoh antagonis dalam film itu, berpendapat sama. "Bisa jadi penonton Indonesia sudah bosan dengan film drama remaja dan akan melirik film ini," ujar dia. (G20-53)

TOTO

Jumat, 12 Mei 2006 . BUDAYA
TOTO Pastikan Konser di Jakarta
JAKARTA-TOTO kembali memastikan diri untuk menggelar konser mereka di hadapan publik Jakarta. Kamis (11/5) kemarin, Bobby Kimball (vokal), Steve Lukather (gitar, vokal), David Paich (kibor, vokal), Greg Phillinganes (kibor, vokal), Simon Phillips (drum, perkusi), dan Mike Porcaro (bas) telah menginjakkan kaki mereka di bandara Soekarno-Hatta. Kehadiran salah satu grup legendaris dunia ini dalam rangka TOTO Falling in Between World Tour. Setelah sebelumnya mereka menggelar konser di Jepang, Timur Jauh, dan Australia, kini giliran di Jakarta," ujar Arief, mewakili Original Production, promotor yang mendatangkan grup tersebut. Konser yang akan digelar di Plenary Hall Jakarta Convention Center (JCC), Minggu (14/5) mulai pukul 20.00 itu akan berlangsung tanpa band pembuka. Meski tiket dijual seharga Rp 1.500.000 (kelas khusus terbatas), Rp. 750.000 (platinum), Rp. 550.000 (gold), Rp 350.000 (silver), dan Rp. 200.000 (festival), tanggapan penonton tetap tinggi. "Sampai saat ini penjualan tiket lumayan dan biasanya penonton Indonesia kan senang memborong pada hari H," kata Arief. Selain akan tetap membawakan tembang-tembang everlasting seperti "I'll Be over You", "Africa", "99", "Rosanna", "Out Love", "Lea", dan "Anna", TOTO juga akan mempromosikan album baru mereka yang berjudul Falling in Between. Berkenaan dengan pembatalan konser TOTO di Surabaya yang rencananya akan digelar di Shangri-la Ballroom, Jumat (12/5), Tommy Pratama dari Original Production menjelaskan hal itu hanya masalah teknis dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan kendala keamanan.
"Mereka (TOTO-Red) tahu kok kondisi Indonesia pada umumnya baik-baik saja," ujar Tommy yang jupa pernah suksus mendatangkan Megadeth, Air Supply, Deep Purple, dan Uriah Heep. (G20-45)

Poseidon


Kamis, 11 Mei 2006 . BUDAYA
Preview Film "Poseidon"
Pornografi Ketegangan

JAKARTA - Wolfgang Petersen selalu punya banyak cara untuk menciptakan ketegangan dalam film. Setelah sukses lewat Troy, The Perfect Strom, dan Air Force One, sutradara yang mendunia lewat karya fenomenal Das Boot itu kembali hadir lewat film teranyar, Poseidon. Film berdasar novel Paul Gallico itu tidak hanya menghadirkan ketegangan. Ia juga menawarkan efek visual yang mencekam. Tak berlebihan bila film yang mengisahkan tentang kapal pesiar yang tertelan keganasan ombak lautan itu diramalkan menjadi box office. Dikisahkan, Poseidon, kapal pesiar nan megah dan raksasa, berlayar di Laut Atlantik Utara pada pergantian malam tahun baru. Di balik segala kemewahan perayaan dan kesenangan di atas kapal supermewah itu, diam-diam bencana besar mengintip. Ombak mahadahsyat setinggi puluhan meter datang tiba-tiba dan secepat kilat menuju ke Poseidon. Tepat setelah tahun berganti, ketika terompet usai ditiup ditingkahi sorak-sorai, ombak menghantam. Sedetik kemudian kegembiraan beralih rupa jadi petaka. Poseidon terbalik. Sekelompok kecil penumpang terlibat drama untuk mempertahankan hidup. Jungkir Balik . Beberapa berikhtiar menjadi pemimpin, pengikut, sekadar panik, hendak menyerah, atau menampik pasrah. Semua jungkir balik, silang sengkarut. Dylan Johns (Josch Lucas), Conor (Jimmy Bennet), Maggie (Jacinda Barret), Robert Ramsey (Kurt Russel), Jennifer (Emmy Rossum), dan Christian (Mike Vogel) bermain secara wajar. Wolfgang Petersen meracik efek visual dan kekuatan drama dari skenario Mark Protosevich menjadi "pornografi" ketegangan yang mencekam. Lewat film itu, dia seperti hendak berpesan bahwa betapapun kekuatan alam tak akan pernah bisa ditandingi manusia. Bahkan juga tidak oleh teknologi supercanggih. (G20-53)

Mus Mujiono

Rabu, 10 Mei 2006. BUDAYA
''Lili Meko'', Album Baru Rasa Lama
JAKARTA-Mus Mujiono, salah seorang seniman musik senior Indonesia, mempunyai rumusan khusus untuk meraih kesuksesan dalam industri musik. ''Promosi, timing, dan eksistensi penyanyi menjadi kunci utama, di luar sensasi,'' katanya seusai berduet dengan penyanyi baru Lili Meko, di Score, Cilandak Town Square, kemarin. Mus Mujiono yang diajak berkolaborasi oleh Lili Meko dalam album barunya berjudul Lili Meko, kemudian menceritakan alasannya mau diajak bekerja sama. ''Dia mempunyai talent yang bagus dan kemauan keras untuk 'bertarung' di indsutri musik yang tidak ramah,'' imbuhnya. Mus Mujiono mengaransemen tembang "Mutiara di Atas Karang" yang ada dalam album berisi sepuluh lagu tersebut. Selain nama Mus Mujiono, cameo lain yang dilibatkan dalam album yang diedarkan di bawah bendera Malta Musik Indonesia ini adalah Adjie Sutama, Beby Romeo, dan The Gift Band. Dengan mengusung corak musik aneka warna antara pop, pop kreatif, slow rock, hingga R&B, baik Mus Mujiono maupun Lili yakin albumnya akan mendapatkan sambutan positif. ''Tidak ada yang benar-benar tahu selera pasar. Saya hanya berdoa semoga pasar menerima musik saya,'' ujar Lili. Denny Sakrie, salah satu pengamat musik Indonesia mengamini apa yang dikatakan Lili. Menurut dia, musik yang dianggap tidak bermutu sekalipun jika dilempar ke pasaran belum dapat dipastikan akan ditolak. Demikian pula sebaliknya. ''Karena industri musik tidak bisa diprediksi,'' kata dia. Mus Mujiono kemudian mencontohkan, pada tahun 80-an tidak ada yang benar-benar dapat memperkirakan jika Trie Utami, Atiek CB, January Christy, Malida, dan beberapa nama lainnya akan sukses pada masa itu. ''Namun musik pop tahun 80-an mempunyai kecenderungan berusia panjang,'' kata Mus. Dengan alasan itu pula Lili Miko membungkus album barunya dalam nuansa pop 80-an. Album baru dengan rasa lama. (G20-45)

"Heart"

Selasa, 09 Mei 2006. BUDAYA
Preview Film "Heart"
Bias Cinta dan Sayang

JAKARTA - Apa beda cinta dan sayang? Dalam film Heart, sutradara Hanny R Saputra mengisahkan bias antara cinta dan sayang yang sangat tipis. Berbeda dari filmnya yang terdahulu, seperti Virgin dan Mirror, Hanny berbekal skenario Armantono kali ini mengunjukkan eksplorasi penuh semangat. Alkisah, Rachel (Nirina Zubir) sejak kecil bersahabat dengan Farel (Irwansyah). Hingga dewasa rasa sayang menyelimuti hati mereka. Suatu saat Farel bercerita kepada Rachel bahwa dia mencintai Luna (Acha Septriasa). Rachel mendukung, meski api cemburu membakar hati. Ternyata Luna menderita sirosis hati dan membutuhkan donor hati. Silang perasaan antara menyayangi dan mencintai sahabat sejati itulah yang jadi titik sentral film ini. Hanny tak menghadirkan kesedihan melulu melalui kisah itu. Sutradara yang mengantarkan Virgin meraih Piala Antemas - penghargaan atas perolehan penonton terbanyak di bioskop pada FFI 2005 - itu mampu menyajikan kesatuan berbagai anasir. Akting pemeran, tata artistik, kamera, dan suara, serta kostum dan ilustrasi musik pun menjadi kesatuan yang utuh. Tak pelak, film ini berhasil "bicara" dengan cara tersendiri. Apalagi Nirina Zubir, pelakon utama yang bermain pula dalam Mirror, bermain dengan wajar. Dukungan musik film drama romantik ini pun tak main-main. Anto Hoed dan Melly Goeslaw melibatkan kelompok orkestra andal dari Beijing, Members of China Philharmonic Orchestra. Tak berlebihan jika Chand Parwez Servia, produser dari Starvision, bertekad mengikutsertakan film ini ke Cannes Film Festival 2006. (G20-53)

ROBERT Knoth,

Jumat, 05 Mei 2006. BUDAYA
Pameran Foto Korban Chernobyl
ROBERT Knoth, fotografer yang memenangi Honorable Mention World Press Photo 2006, tahu betul bagaimana mengabadikan para korban tragedi. Dan 50 foto hitam-putih karyanya yang membidik korban kebocoran reaktor nuklir Chernobyl 20 tahun lalu di Uni Soviet menjadi bukti. Dia memaerkan karya itu di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA), Jalan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Karya-karya Knoth menggambarkan betapa tragedi Chernobyl merupakan salah satu kasus dari rangkaian kecelakaan nuklir dengan efek kerusakan terparah selama 45 tahun terakhir. ''Tema yang diangkat Knoth juga erat berkait dengan masalah yang terjadi saat ini, yakni perubahan cuaca dan penghematan energi,'' ujar Dyah Kusumawardani dari GFJA, kemarin. Pameran yang akan dibuka secara serentak di 30 kota di seluruh dunia itu diprakarsai Greenpeace. ''Di Jakarta, Greenpeace Asia Tenggara menggandeng GFJA,'' katanya. Karya yang dipamerkan pada 9-14 Mei mulai pukul 10.00 itu berkisah tentang korban bencana nuklir dan percobaan atom di empat tempat di bekas wilayah Uni Soviet. korban Chernobyl harus hidup dengan berjuta masalah sosial, ekonomi, lingkungan, dan kesehatan. Berbagai hal itu sangat memengaruhi cara dan perilaku hidup keseharian mereka. Prestisius . Knoth memotret di Mayak, Semipalatinsk, dan Tomsk. Karya itu dimuat dalam majalah fotografi prestisius di Inggris, Foto8, edisi Maret 2006, dengan tajuk "Annya: Chernobyl Certificate No. 000358". Karya-karya itu juga dihadirkan dalam pameran. ''Karya Knoth bisa jadi bahan perbandingan bagi dunia fotografi di Indonesia,'' kata Ketua GFJA Oscar Matulloh. Oscar menuturkan pameran itu bukan sekadar yang pertama dan satu-satunya yang diselenggerakan secara serentak di 30 kota di dunia pada waktu yang sama. ''Lebih dari itu, pameran tersebut mengemban misi penting bahwa liputan serius yang dikerjakan dengan hati pasti membuahkan sesuatu yang berguna.'' Knoth, kata dia, adalah fotografer features dan dokumentasi sosial. Knoth juga menjadi relawan Greenpeace. ''Kendati bukan fotografer hot spot, kejeliannya dalam fotografi features dan dokumentasi diandalkan.'' (Benny Benke-53)

Mission Imposible III

Rabu, 03 Mei 2006. BUDAYA
Mata-mata Juga Manusia
Mission Imposible III

AGEN rahasia Ethan Hunt kembali datang dalam Mission Imposible III . Sang agen yang dihadirkan dengan sentuhan lebih manusiawi itu tetap diperankan Tom Cruise. Dalam fil besutan sutradara JJ Abrams berdasar serial televisi populer karya Bruce Geller itu, Ethan sudah menjadi seorang suami. Alkisah, Ethan Hunt (Tom Cruise) telah pensiun. Dia menjadi pelatih agen baru Imposible Mission Force (IMF) dan bertunangan dengan si cantik Julia (Michele Monaghan). Namun sepengetahuan Julia, Ethan adalah ahli lalu lintas jalan raya. Tak lebih dari itu. Kepergian ke seminar itu sebenarnya adalah dalih bagi Ethan agar bisa ke Berlin membebaskan agen IMF yang ditawan penjahat. Namun agen muda itu tak tertolong. Sebab, bom yang tertanam dalam kepala sang agen meledak. Ketegangan demi ketegangan memuncak. Ethan berencana menangkap dedengkot penjahat yang psikopat. Untuk kali kedua dia meminta izin pergi beberapa hari. Namun Julia mulai curiga dan menyelidiki siapa sebenarnya Ethan yang telah menjadi suaminya itu. Film itu bakal diedarkan secara serentak di seluruh Asia mulai hari. Cruise masih menjadi jualan utama. Tiga kali dia diunggulkan meraih Academy Award lewat Born on the Fourt of July, Magnolia, dan Jerry Maguire. The International Motion Picture Almanac'c Quigeley Poll tujuh kali menetapkan dia sebagai pencetak uang terbanyak. Cruise yang melejit lewat film Top Gun (1986) tak sendirian mengangkat film itu. Lawan mainnya, Philip Seymour Hoffman, juga baru saja meraih Academy Award sebagai aktor terbaik lewat Capote. ''Film ini bukan tentang dunia agen rahasia, melainkan tentang mata-mata yang mempunyai sisi kehidupan lain di luar pekerjaannya,'' kata Cruise yang menjadi produser film itu. Dia menegaskan bahwa mata-mata itu juga manusia. Mereka berhak berkeluarga dan hidup bahagia. (Benny Benke-53)