Minggu, 24 Februari 2008

Pram

Rabu, 08 Februari 2006. BUDAYA
Ketika Pram Patok Harga Tinggi
JAKARTA-Siapakah sastrawan Indonesia yang karyanya telah diterjemahkan ke dalam 37 bahasa dan sekaligus satu-satunya penulis yang paling tidak bisa dimengerti berbagai rezim di Indonesia? Jawabnya adalah Pramudya Ananta Toer. Demikianlah kesimpulan Taufik Rahzen, budayawan yang memandu acara Kongkow Budaya baru-baru ini bersama sastrawan kelahiran Blora, 6 Februari 1925, tersebut. Acara itu merupakan salah satu agenda perayaan ulang tahun yang digagas Taring Babi, Indonesia Buku (Ibuku), Dewan Kesenian Jakarta, dan berbagai institusi kepemudaan lainnya. Perayaan ultah sastrawan "32 Batang Rokok", demikian ia biasa disapa orang dekatnya, di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Senin (6/2), itu terhitung meriah. Berbagai rumor terkini perihal kegiatan penerima Ramon Magsasay Award untuk kategori Jurnalistik, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif (1995) itu didedah bareng sang empunya. Dari penyakit kepikunannya yang membuat Pram tidak bisa berkarya lagi dalam sepuluh tahun terakhir, tampikannya terhadap ikhtiar sutradara Hollywood, Oliver Stone, sampai kritikan para pencinta sekaligus pengagumnya yang menengarai pola pikirnya telah berubah menjadi kapitalis. Dalam Kongkow Budaya yang juga dihadari Max Lane, penerjemah karya Pram ke dalam bahasa Inggris, Yenni Rosa Damayanti, Rieke Dyah Pitaloka, Happy Salma hingga komunitas musik punk Jakarta Raya, Pram bahkan mengecam generasi pemuda sekarang yang tidak mampu melahirkan pemimpinnya sendiri. "Delapan puluh satu tahun adalah umur yang tidak pernah saya bayangkan, dengan segala kepahitan dan kegetirannya," tuturnya datar. "Betapa tidak terbayangkannya karena sejak sepuluh tahun kebelakang sejak umur 70 tahun saya berhenti menulis sama sekali". Mengapa penulis tetralogi Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988) yang melambungkan namanya ini berhenti menulis? "Karena saya sudah pikun. Apa yang ingin saya sampaikan di tengah jalan pasti lupa," imbuhnya. Karena penyakit pikun itulah dia tidak dapat memilih kata-kata yang tepat. "Tapi pikun itu ada baiknya. Baiknya apa. Kalau ditagih saya mempunyai alasan yang tepat," katanya yang mendapat sambutan gelak tawa hadirin yang memenuhi arena Teater Kecil hingga larut malam. Harga Tinggi. Rumor perihal terlalu tingginya harga yang dipatok Pahlawan Asia versi majalah Times Singapura (2002) atas buku Gadis Pantai, bagi para pembuat film yang hendak memvisualkan novelnya memang telah bergulir dua tahun terakhir. Pertanyaan itu akhirnya mengemuka kembali. Pram yang diberi izin hadirin untuk merokok di atas panggung pun akhirnya membuka kartunya. "Hak untuk memfilmkan karya saya minimum seharga Rp 1,5 milyar untuk jangka waktu lima tahun. Masalah mau diinterpretasikan secara visual seperti apa itu terserah film maker karena itu sudah bukan bidang dan dunia saya," katanya. Kejujuran Pram ini seketika mendapat respons keras dari Yenny Rosa Damayanti. Bagi Yenny, kekecewaanya terhadap cara Pram memperlakukan karyanya seperti properti yang dijual untuk sebuah harga, tanpa mempertimbangkan karya tersebut adalah warisan bangsa, tak ubahnya seorang kapitalis.
"Karena bagi saya, karya Pak Pram adalah karya yang harus disiarkan, disebarkan, dipetakan, difilmkan, dipentaskan, dimainkan oleh siapa pun juga demi kemanusian, bukan demi sebuah harga". Menanggapi kekecewaan tersebut dengan tenang Pram menjawab: "Karya itu mutlak kepunyaan saya, jadi jika ada yang tidak suka dengan cara memperlakukan hak cipta saya sendiri, itu hak publik. Silakan," katanya. "Sejak tahun 65 semua milik saya dirampas, namun tidak ada yang membela sampai sekarang, dari rumah, buku dan semuanya. Ketika saya bawa masalah ini ke pengadilan, mereka bilang, salah alamat. Gimana ini?". Ketika suasana tegang, seorang hadirin berceloteh: "Pram juga manusia..." Dendang hadirin itu sembari menirukan nada tembang "Rocker Juga Manusia" milik Seureius Band, spontan membuat hadirin tertawa, kecuali Pram. Dukungan untuk mematok harga yang tinggi justru datang dari Max Lane dan Doddy Achmad Fawzy, penerbit buku. "Dengan mematok harga yang tinggi justru membuat profesi sebagai penulis akan semakin bermartabat," ujar Doddy. Meski mematok harga tinggi untuk karya-karyanya, bukan berarti Pram memasang harga yang sama bagi kelompok teater yang hendak mementaskan salah satu karyanya. "Bahkan selama ini Pram terlalu sering ikut membiayai kelompok teater maupun grup band yang hendak naik panggung," tutur Taufik Rahzen. (Benny Benke-45)

Matinya Toekang Kritik''

Sabtu, 04 Februari 2006. BUDAYA
Kritik Sosial Masih Jadi Andalan Butet
JAKARTA- ''Dikritik itu memang sakit, tapi jauh lebih sakit jika kritik tidak didengarkan,'' ujar Suhikayatno, tukang kritik sejati yang tidak akan pernah mati, menarasikan perasaanya. Selanjutnya, monolog ''Matinya Toekang Kritik'' yang berdurasi 90 menit itu mengalir dengan penuh gelak tawa sebagaimana ciri utama monolog yang dibawakan Butet Kartaredjasa. Lakon yang disutradari oleh Whani Darmawan, sebagaimana monolog Butet terdahulu berjudul ''Lidah Masih Pingsan'', memang masih tajam dengan berbagai kritik sosial tentang kondisi kekinian di Indonesia. Kekuatan kritik sosial yang dituangkan dalam setiap monolog Butet inilah yang menjadi kekuatan kunci utama lakon yang akan dipentaskan di Jakarta (3-5 Februari), Yogyakarta (11-12 Februari), dan Surabaya (17-18 Februari). Selain kekuatan pada naskah yang ditulis oleh Agus Noor, peran multimedia yang hampir mendominasi hampir selama pertunjukan adalah nilai plus lain ''Matinya Toekang Kritik''. Sedangkan keaktoran Butet, meski masih menarik, tampak mulai kedodoran pada pertengahan pertunjukan. Untung saja, improvasi putra almarhum Bagong Kussudiardjo ini masih piawai seperti dulu. Seperti biasanya, kekompakannya "berduet" dengan sang adik, Djaduk Ferianto sebagai penata musik bersama empat kru lainnya, membuat pertunjukan makin menarik. Simaklah ketika pada preview pertunjukan perdana di Graha Bhakti Budaya (2/2), Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Butet menunjukkan kelihaiannya berimproviasi dengan Djaduk. ''Nama itu membawa tuah bagi yang menyandangnya,'' ujar tokoh Sukihayatno dari atas panggung dengan topi pet berlambang bintang. ''Coba-coba sekarang namanya siapa,'' tanya Suhikayatno kepada kru musik. Djadukpun spontan berpekik: ''Mudji Sutrisno!''. Multimedia. Bisa ditebak Suhikayatno yang tak lain adalah Butet memelesetkan sedemikian rupa nama Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara itu. Penonton tentu saja terpingkal, dan Prof Dr Mudji Sutrisno yang kena sasaran hanya tersenyum. Demikian halnya penonton VIP lainnya seperti Mochtar Pabottingi, Frans Seda, Ignas Kleden serta Rieke "Oneng" Dyah Pitaloka. al yang paling membedakan monolog Butet terkini mungkin peran yang sangat sentral multimedia. Suara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mantan presiden Megawati, dan presiden Soekarno misalnya, menjadi pembuka monolog ini yang keluar dari multimedia. Dan dalam setiap pergantian atapun kontinuitas pertunjukan, layar yang menjadi setting mendiskripsikan kejadian-kejadian yang pernah terjadi di bumi Indonesia. Dari peristiwa kerusuhan Mei 1998 hingga masa proklamasi Indonesia, penggusuran dan berbagai peristiwa penting lainnya. Menurut Agus Noor, sentralitas dan banyaknya peran multimedia ini bukan berarti tanpa risiko. "Karena, sekali multimedia mengalami error maka sangat dimungkinkan akan mengganggu monolog secara keseluruhan. Meski kami sudah menggunakan multimedia selama satu bulan penuh, error masih saja terjadi. Maklim namanya juga mesin.'' Meski berisiko, Jompet, Arie Ps dan Giras Basuwonto (putra Butet) yang dipercaya memegang multimedia akhirnya toh tetap mampu menyuguhkan sebuah pertunjukan dengan apik. Memadukan kepintaran Butet dalam berlakon, meski tidak selihai dulu, dengan kecanggihan komputer. ''Matinya Toekang Kritik'' pada garis besarnya berkisah tentang Sukihayatno, seorang tukang kritik yang hidup di tahun 2012 hingga 3000- sekian. Lewat kisah hidup Suhikayatno yang kerjanya mengkritik dari satu rezim ke lain rezim, Suhikayatno bersaksi tentang kondisi negeri. Bersama Bambang (yang diperankan Butet juga), pembantu setianya, Suhikayatno terus saja mengkritik demi kebaikan dirinya sendiri dan negerinya. Hingga pada masanya kondisi zaman benar-benar menjadi tertib dan teratur, sehingga tidak ada yang bisa dikritik lagi. Anggota DPR tidak nakal lagi. Polisi, hakim dan jaksa tidak menjualbelikan perkara lagi. Mahasiswa tidak kenal narkoba dan semua berjalan dengan baik-baik saja. ''Di zaman tertib seperti ini, nabi pun sudah tidak diperlukan lagi,'' katanya masygul dan akhirnya mati. ''Saya hanya ingin menyampaikan kepada masyarakat jika kritik bagaimanapun juga masih dibutuhkan di negeri ini,'' ujar Agus Noor. (Benny Benke-45)

Shisa

Senin, 23 Januari 2006. BUDAYA
Shisha, Gaya Hidup Baru Orang Jakarta
BELAKANGAN banyak kaum muda Jakarta yang kecanduan mengisap rokok ala India. Bahkan, kebutuhan itu sudah menjadi gaya hidup mereka. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka, Benny Benke, tentang rokok ala India, yang lebih populer disebut sebagai shisha, dan berikut kesan dari para penggemarnya. ''TIDAK ada yang lebih nikmat selain melakukan shisha bersama kawan-kawan.'' Inilah ungkapan Berky Yudika (16), yang sedang melakukan shisha atau menghisap rokok ala India, seperti dirasakan remaja lain, Eric Wijaja (16), Evo (18), dan Pierre (17). Keempat remaja yang masih duduk di bangku SMU dan universitas semester pertama itu adalah gambaran sebagian kecil dari sekian banyak orang Jakarta, yang sekarang sedang gemar-gemarnya melakukan shisha. Shisha, sebagaimana dituturkan Mohammad Nagib Alkaf, pemilik tiga tempat shisha di Jakarta, berasal dari kebudayaan tradisional India, yang telah berusia ratusan tahun. ''Setelah mengalami penyebaran dan pengembangan, ternyata shisha malah berkembang di Timur Tengah atau dunia Arab, selebihnya menyebar ke China,'' tuturnya. Nagib bersama kawan-kawannya jugalah, yang akhirnya mendekatkan budaya shisha atau bong rokok itu kepada masyarakat Jakarta, khususnya, dan Indonesia, umumnya. Menurut dia, sebelum membuka gahwacy atau warung kopi, yang terletak di kawasan Kemang, shisha hanya dapat dinikmati di hotel-hotel berbintang lima, dengan jangkauan harga sangat tinggi. ''Setelah kami kemas sedemikian rupa pada 2003 lalu, akhirnya shisha menjadi familiar di kalangan kaum muda Jakarta,'' kata dia. Bahkan, beberapa nama sohor dalam dunia keartisan, seperti, Dian Sastrowardoyo, Adam Jordan, Fauzy Ba'adila, Gilbert, hingga para politisi, seperti, Harmoko, Sys NS, sampai Alwy Shihab adalah pengunjung tetap di warung kopi miliknya untuk melakukan shisha. Apa nikmatnya shisha, sehingga banyak kaum muda, artis, politisi, hingga kalangan ekspatriat Jakarta menggemarinya? ''Kita bisa merokok dengan memilih cita rasa buah yang kita suka,'' tutur Nisa, karyawan warung kopi, yang telah setahun lebih menjadi saksi maraknya penggemar shisha. Berbagai rasa buah, seperti, anggur, strawberry, coconut, mint, rose, dan apel adalah menu pilihan utama, yang paling digemari. Biasanya shisha rasa bauh-buahan itu dinikmati bareng mint tea, sharazat (teh susu dan kapulaga/rempah dari Arab), dan jalab (juice korma).Kalaupun dibarengi dengan makan besar, menunya dari berbagai daging lembu seperti lamb les, laham mashui, shawarana, musaka, dan dajaj mashwi. Menurut Nagib, idealnya melakukan shisha pada waktu sehabis makan malam dibarengi dengan minum mint tea. ''Bahkan, kalau di Arab, air putih dingin sebagai bahan shisha biasanya diganti dengan coca cola atau vodka,'' imbuhnya. Namun, akhirnya hal itu memang menimbulkan efek mabuk. Impor. Bahan dasar shisha yang berbentuk bong raksasa setinggi 60-70 cm itu terdiri atas shisha atau bong, muassal (tembakau), arang spesial (tidak berbau, berasap, dan berasa), serta pipa. Semua bahan itu diimpor dari Dubai, Uni Emirat Arab. Untuk tembakau memang hanya ada di Dubai dan beberapa negara Timur Tengah. Pada dasarnya tembakau untuk shisha hasil dari campuran sari aneka buah dan tembakau, yang dimadu kemudian diperam, dengan kadar nikotine 0,1% dan tar 0%. ''Setelah melewati proses pemeraman, maka jadilah tembakau untuk bahan shisha,'' papar Nagib.
Tembakau shisha yang telah diperam itu selajutnya dibungkus alumuniun foil dan diletakkan di tengah shisha (bong), di mana pada bong dasarnya telah diisi air dingin (atau coca cola dingin dan berbagai minuman dingin lainnya). Setelah itu, di atap shisha, arang dibakar untuk ''membakar'' tembakau secara tidak langsung. ''Pada dasarnya, tembakau tidak terbakar langsung, hanya terkena efek panas arang yang dibakar,'' imbuh Na gib. Siapakah pengunjung dan penikmat terbanyak shisha?Sebanyak 70% adalah para ekspatriat, yang sebagian besar pernah bekerja di perusahaan-perusahaan minyak di Timur Tengah. Karena itu, sudah kenal dengan baik budaya shisha di Timur Tengah. Menurut Nagib, di Timur Tengah, biasanya shisha dijajakan di warung-warung kaki lima, yang sangat mudah sekali ditemui di jalanan. Sementara itu, 30% sisanya adalah kaum muda dan orang China. ''Bahkan, anak-anak Jakarta International School (JIS) setiap akhir pekan dapat dipastikan telah mem-booking tempat kami,'' ujar Nisa. Dengan hanya membayar Rp 35.000 untuk satu rasa shisha, yang biasanya dinikmati tiga sampai empat orang, shisha bisa dinikmati bersama hingga 30 sampai 60 menit. Dan biasanya serombongan orang yang datang memesan dua sampai tiga shisha aneka rasa. Hanya harga aneka minuman dan makanannya saja yang lebih tinggi dari harga shishanya sendiri. Di warung kopi milik Nagib sendiri frekuensi kunjungan orang yang melakukan shisha 30 sampai 50 orang setiap hari biasa. Dan di akhir pekan, teristimewa Jumat dan Sabtu, meningkat hingga 120-150 orang atau bahkan hingga 200 orang. ''Bahkan, untuk akhir pekan, biasanya orang-orang telah mendaftar dan memesan dulu. Kami pun harus ngebel jauh-jauh hari sebelumnya,'' tutur Pierre, murid salah sebuah SMA di Jakarta, yang mengaku telah melakukan shisha sejak setahun yang lalu. ''Selain enak, karena asapnya banyak dan cita rasa tembakaunya terasa, kami merasa keren aja,'' tukas Evo, rekan Pierre. (14h)

9 Naga,

Senin, 16 Januari 2006. BUDAYA
Lima Film Bersaing Rebut Penonton
JAKARTA - Pada Awal 2006 ini sejumlah film baru produksi dalam negeri beredar di bioskop. Film-film baru itu semuanya membidik penonton remaja dan masih menggunakan jurus lama, konflik remaja dengan bumbu cinta yang diakhiri dengan kisah sukses. Paling sedikit terdapat lima film baru produksi dalam negeri yang akan bersaing merebut penonton. Kelima film itu adalah Garasi, 9 Naga, Realita Cinta dan Rock 'n Roll, Jomblo, serta Gue Kapok Jatuh Cinta. Film manakah di antara lima film baru itu yang benar-benar bakal dibanjiri penonton seperti ketika Sherina, Ada Apa Dengan Cinta, dan Eiffel I'm in Love berhasil menarik masyarakat berbondong-bondong mendatangi gedung bioskop pada awal 2000-an? Salah satu di antara lima film baru itu yang layak mendapat sorotan khusus adalah 9 Naga. Film karya Rudi Sudjarwo ini mengangkat tema berbeda dari empat film lainnya. Bahkan, ketika baru diperkenalkan kepada pers belum lama ini, tagline yang berbunyi ''Manusia Terbaik di Indonesia Adalah Seorang Penjahat'' kena sensor. Demikian pula dengan poster Fauzi Baadila yang mempertontonkan pusarnya. Dua pelarangan oleh Badan Sensor Film ini sangat membantu menaikkan "suhu" 9 Naga yang skenarionya ditulis Monti Tywa.
Film ini berkisah tentang tiga sahabat Marwan, Donny, dan Lenny. Ketiganya bertekad mengambil jalan hidup yang sama, yaitu menjadi pembunuh bayaran. Namun mereka akhirnya menyadari, jalan hidup yang mereka tempuh keliru. Ketiganya pun berjuang untuk melepaskan diri dari cengkeraman kejahatan mereka sendiri.
''Saya hanya ingin menyajikan tema lain dari keberagaman tema film yang marak di Indonesia,'' tutur Rudi Sudjarwo, kemarin. Film yang original soundtrack-nya digarap Andi Rianto itu mengandalkan pemain baru Lukman Sardi, Donny Alamsyah dan Marcel Anthony ini. Satu-satunya pemain berpengalaman adalah Fauzi Baadila (Mengejar Matahari, Rindu Kami Pada-Mu) . Cinta Segitiga. Sementara itu, Garasi dan Realita Cinta dan Rock n Roll, mengusung tema sama, yaitu remaja yang menggeluti dunia musik dan cinta segitiga di antara mereka. Garasi yang disutradarai Agung Sentausa dibuat berdasarkan berpijak skenario Prima Rusdi (Ada Apa dengan Cinta?, Eliana Eliana, Banyu Biru). Film ini mencoba melakukan eksperimen dengan merekrut aktor yang berlatar belakang dunia musik. Bahkan, film yang diproduseri Mira Lesmana ini benar-benar menghasilkan sebuah grup band yang juga diberi nama Garasi. Personel grup itu, Ayu Ratna, Fedi Nuril, dan Aries Budiman dibimbing musikus Andi Ayunir. Mereka harus berakting dan menulis lagu. Untuk menunjukkan keseriusan Garasi sebagai grup band, pada ulang tahun Slank baru-baru ini mereka ikut manggung bersama band mapan lainnya. Film Garasi berkisah tentang tiga sahabat yang bercita-cita menggantungkan hidup dari musik. Dalam perjalanannya, konflik percintaan di antara mereka mempersulit mereka sendiri. Sedangkan Realita Cinta dan Rock 'n Roll yang skenario dan penyutradaraannya ditangani Upi Avianto (30 Hari Mencari Cinta, Tusuk Jalangkung) juga berkisah tentang remaja dan dunia musik.
Ipang (Vino) dan Nugi (Junot) adalah dua sahabat bengal yang tidak gemar sekolah, pembuat onar, dan mempunyai hobi bermain band. Mereka merasa bahwa dunia berada di tangan mereka. Ipang dan Nugi ternyata anak adopsi dan orangtua mereka transeksual. Belum lagi ketika persahabatan mereka nyaris berantakan dengan kehadiran teman perempuan, Sandra (Nadine Chandrawinata). Nadine sebagai Putri Indonesia (ketika proses syuting Nadine belum dinobatkan sebagai Putri Indonesia) menjadi sebuah "magnet" untuk menarik penonton. Film yang diperkuat aktor senior Frans Tumbuan ini semakin menarik dengan akting mantan aktor laga 80-an, Barry Prima yang berlakon sebagai Marina, seorang banci yang membesarkan Nugi. ''Akting Om Barry yang biasanya macho saya ubah menjadi banci dalam film ini,'' tutur Upi Avianto. (G20-43)

Realita Cinta dan Rock 'n Roll

Kamis, 19 Januari 2006. BUDAYA
Membumikan Rock 'n Roll
JAKARTA-Realita kehidupan anak muda adalah aras tema yang tidak akan pernah ada habisnya untuk dikuak. Upi, sutradara perempuan berbakat tampaknya tahu betul dunia anak muda semacam itu. Lewat film terbarunya Realita Cinta dan Rock 'n Roll (RCRR) Upi tidak hanya menyuguhkan sebuah tontonan ringan bermutu yang sarat pesan kebijakan. Lebih dari itu, tanpa berupaya menggurui, dengan bahasa anak muda, ia berhasil membumikan realita yang sarat persoalan cinta dengan bumbu rock 'n roll dengan membumi. ''Ini bukan film anak band, cinta segitiga, atau sebangsanya,'' tutur scriptwriter untuk Tusuk Jalangkung dan Lovely Luna ini seusai preview perdana film berdurasi 109 menit ini. Tapi, imbuhnya, ini adalah film-film tentang orang-orang kehilangan yang menyikapi dengan semangat rock 'n roll drama. Mengapa Upi lebih suka menyebut filmnya rock 'n roll drama? ''Karena saya mengajak penonton untuk berdamai dalam menyikapi realita yang tidak pernah bisa dibeli dan tidak seindah mimpi dengan semangat rock 'n roll'' katanya. Ya, realita dalam film yang mempertontonkan sosok lain Barry Prima sebagai seorang aktor yang transeksual ini, memang penuk sesak kompleksitas. Semua tokoh utamanya membawa permasalahannya masing-masing dan akhirnya diselesaikan dengan cara yang sahaja, mudah dicerna, dan tidak dibuat-buat.Memang, bahasa gambar, alur cerita, music score dan keaktoran RCRR menjalin sin ergisitas yang saling melengkapi dan membangun sebuah film yang utuh. Meski tidak sempurna benar, Upi yang bertindak juga sebagai scriptwriter dapat dikatakan cukup berhasil. Perkawanan. Film ini berkisah tentang dua sahabat, Nugi (Herjunot Ali), dan Ipang (Vino G Bastian). Dengan mengabaikan sekolah, mereka bercita-cita menjadi pemain band rock 'n roll. Perkawanan mereka yang serba seenaknya sendiri semakin lengkap dengan kehadiran Sandra (Nadine Chandrawinata), penjual kaset yang membuka sebuah distro. Hingga akhirnya masa terima rapor SMA tiba, baik Nugi maupun Ipang menuai banyak angka merah. Alhasil, ibu Nugie (Sandy Harun) yang hippies menyarankan Nugie untuk menemui ayahnya. Demikian halnya dengan Ipang yang baru tersadar jika orang tuanya sekarang (Frans Tumbuan) bukanlah ayah kandungnya. Kompleksitas semakin memuncak manakala Nugie telah bertemu ayahnya (Barry Prima) yang ternyata telah berubah menjadi seorang perempuan bernama Mariana. Tentu saja tidak mudah bagi seorang anak mengetahui ayahnya transeksual. Permasalahan juga menghampiri Sandra yang disia-siakan kedua orang tuanya. Maka Nugi, Ipang, dan Sandra mencari makna kesejatian dengan caranya sendiri, yakni cara rock 'n roll. ''Jika cinta menyakitkan, hidup tidak ada yang sempurna, lalu apa yang membahagiakan,'' ujar Ipang kepada Sandra. ''Kita harus berdamai dengan realita,'' balas Nugi di lain kesempatan. (Benny Benke-45)

Kamis, 21 Februari 2008

"Serambi"

Jumat, 30 Desember 2005. BUDAYA
Preview Film "Serambi"
Tsunami di Mata Korbannya

''Tsunami artinya Tuhan tidak adil,'' ujar seorang bocah kepada kawannya. ''Hush, tidak boleh bilang seperti itu. Tuhan Maha Adil. Apa pun yang diberikan Tuhan adalah kuasa-Nya,'' jawab bocah lainnya. Mendengar pembicaraan kawan-kawannya, bocah yang lain tertawa. ''Hush. Jangan ketawa, nanti diambil tsunami''.


NUKILAN di awal film dokudrama atau dokumenter semi drama terbaru karya Garin Nugroho, Viva Westi, Tonny Trimarsanto, dan Lianto Luseno itu, membuka Serambi dengan linear. Film berdurasi 80 menit yang proses pembuatannya diawali pada Februari 2005, atau dua bulan setelah tragedi memilukan itu, sebagaimana tipikal film Garin, cenderung bercerita dengan simbolik. Hal ini menjadi maklum mengingat Garin berposisi sebagai konseptor kreatif sekaligus supervisi sutradara. Sedangkan tiga sutradara muda lainnya ''hanya'' menjadi pelaksana konsep. Tipikal film yang "sangat Garin" ini terlihat dari penghadiran suasana lokal bumi serambi Mekah yang pekat dengan nuansa Islaminya, namun dibungkus dalam nuansa global dengan kehadiran ''Che Guevara'' lewat tokoh Reza Idria. Hal ini mengingatkan pada film Garin terdahulu ''Padang Rumput Savana'' lewat kehadiran ''Elvis Presley'' yang diwakilkan tokoh Kuda Liar yang diperankan Adi Kurdi. Perihal rumusan klasik ini, Garin mengakuinya. ''Dengan mengaitkan nilai-nilai lokal dalam balutan nuansa global, maka apresian penonton yang lintas bangsa dapat terjembatani,'' tutur Garin seusai preview perdana di Jakarta, kemarin. Serambi yang diproduseri Christine Hakim bekerja sama dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata serta Bank BNI ini pada dasarnya memotret kondisi kekinian Aceh pascabencana dengan sajian tiga cerita yang berjalan seiring. Film ini tidak mengangkat peristiwa-peristiwa besar namun hal-hal yang terkesan remeh namun pada dasarnya sangat esensial pascabencana. Serambi justru mampu menghadirkan potret-potret kuat manusia Aceh dalam meneruskan hidup. ''Pada dasarnya film ini berkisah tentang orang-orang yang kehilangan namun tetap bertahan dengan kehidupannya'' tutur Garin mengingatkan. Para tokoh yang memerankan dirinya sendiri seperti Maisarah Untari (Tari), Reza Idria, Azhari, Lisa Aulia (generasi muda), serta Usman, Jaelani, Hasyim Mulyadi, dan Cut Putri (generasi dewasa) menarasikan kehilangan mereka dengan apa adanya. Tanpa tuntunan skenario atau jalan cerita, mereka semua menjadi dirinya sendiri dan bertutur tentang kehilangan tak terkira atas orang-orang tercinta. ''Semua adegan dan dialog diambil lewat spontanitas pembicaraan para pelakonnya yang memang kehilangan orang-orang terdekat mereka,'' ujar Christine Hakim. Contohnya penuturan Usman (45), penarik becak motor khas Aceh Meulaboh. Usman yang sebatang kara karena seluruh anggota keluarga dan rumahnya lenyap ditelan tsunami, mempunyai kebiasaan baru untuk terus mengenang keluarganya. Ia hanya mau makan di bekas reruntuhan rumahnya, tempat istrinya dahulu tersenyum menyambutnya, dan anak-anaknya yang manis merindu derum motornya. (Benny Benke-45)

Bioskop

Kamis, 29 Desember 2005. BUDAYA
Minimnya Bioskop di Daerah Jadi Kendala
JAKARTA - Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) sebagai lembaga yang mengawal pembangunan perfilman Indonesia di bawah Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, telah mendesak Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas agar memasukkan kurikulum perfilman dalam dunia pendidikan. Dengan langkah itu diharapkan napas kreator perfilman Indonesia tetap terjaga untuk terus menghasilkan film-film baru. ''Sebab, kualitas akan berjalan dengan sendirinya seiring dengan kuantitas film yang ada,'' kata Ketua BP2N Djonny Safrudin. Meski berharap sokongan pemerintah, menurut Djonny, penyokong utama film Indonesia adalah penonton atau masyarakat Indonesia sendiri. ''Inilah repotnya, penonton film Indonesia sejatinya banyak terdapat di daerah hingga kota kabupaten. Namun payahnya, setelah 90-an banyak bioskop di daerah yang tutup,'' katanya. Namun, dia optimistis pertumbuhan perfilman nasional akan terus membaik. Apalagi jumlah penonton film produksi dalam negeri di bioskop makin membludak. Hal itu terlihat dari data jumlah penonton sepanjang tahun 2005, dengan predikat film terlaris dipegang film Virgin. Berdasarkan data BP2N hingga Desember 2005, jumlah penonton film pernah menjadi kontroversi itu telah mencapai angka 1.150.000. Urutan berikut diduduki Apa Artinya Cinta? yang menyedot 1.100.000 penonton. Jumlah penonton film Indonesia itu akan bertambah banyak jika bioskop di daerah dibuka kembali. ''Inilah kendalanya, selain jumlah bioskop di daerah berkurang, para pekerja film juga harus bersaing dengan tv, VCD bajakan,'' katanya. (G20-43)