Selasa, 19 Februari 2008

Missing.

Selasa, 25 Oktober 2005. BUDAYA
Hantu Lagi, Hantu Lagi
INILAH film Indonesia terbaru yang ber-genre horor dengan tema lama yang dibungkus nuansa baru. Setelah booming film horor yang dipelopori Jelangkung (2000), film-film horor pun bermunculan di bioskop, antara lain Tusuk Jalangkung, Kafir, Di Sini Ada Setan, AM 12, Ada Hantu di Sekolah, dan Soul . Semuanya menampilkan hantu sebagai tokoh sentralnya. Starvision tampaknya yakin tema hantu masih laku. Maka, produser Chand Parwez Servia kembali merilis film hantu dengan judul Missing. Film berdurasi 95 menit yang diputar di bioskop mulai pekan lalu itu dibuat berdasarkan skenario karya Dini Radja dan Ery Sofid. Sutradara Chiska Doppert memvisulisasikannya sebagaimana lazimnya film horor. Dengan ilustrasi musik yang mengagetkan di tengah kesunyian, teriakan pelakon yang kaget plus loncatan adegan dalam sepersekian detik, lengkaplah sudah Missing sebagai film horor standar. Tidak buruk, tetapi juga bukan film istimewa. Tidak ada yang baru dalam film ini, baik dari segi alur cerita, sinematografi maupun seting. Alur ceritanya tidak logis. Bahkan, akting para pemainnya masih jauh di bawah rata-rata. Film ini dibintangi Endhita, Restu Sinaga, Marchela Zalianty, Inong, Robertino, Galang, dan Rizal. Satu-satunya unsur yang menonjol dalam film ini adalah editing. Satine Natranda sebagai editor mampu mengemas film ini menjadi enak dinikmati. Film ini berkisah tentang Maya (Endhita), yang mempunyai indra keenam, yaitu kemampuan supranatural untuk berkomunikasi dengan roh orang yang meninggal. Kemampuannya inilah yang justru membuatnya tidak tenang dalam menjalani hidup. Suatu ketika ada seorang anak terjebak di bagasi mobil mereka tanpa sepengetahuan Maya dan Steven. Setelah sekian lama, Vega (Essa Elok Pujilestari), bocah malang itu dinyatakan hilang. Namun betapa kagetnya Maya dan Steven, ketika mengetahui Vega yang awalnya bermain petak umpet di bagasinya dan dinyatakan telah hilang dan mati, ternyata masih hidup. Disinilah keklisean kisah hantu bermula. Alih-alih lapor ke polisi, karena takut kejujurannya diabaikan, pasangan muda itu malah menyekap Vega. Tanpa sengaja pula Vega mati saat Steven membungkam mulut bocah malang itu. Mereka pun panik dan menguburkan Vega jauh di pedalaman hutan. Dari sinilah, hantu Vega meminta keadilan kepada kedua pasangan itu.(Benny Benke, P1-43)

F Widayanto

Selasa, 18 Oktober 2005. BUDAYA
Keajaiban "Lempung dalam Fan-tastic Lady"
SIAPA yang menyangka jika lempung atau lumpur tanah liat di tangan F Widayanto menjadi barang yang dihargai hingga mencapai angka ratusan juta rupiah. Ya, seniman lumpur tanah liat lulusan Seni Rupa ITB (1981) itu untuk kali ke-10 kembali menggelar pameran. Kali ini bertajuk "Wanita dan Kipas (Fan-tastic Lady)" dengan tema ''Gores Garis Liris''. Bertempat di galerinya di Setia Budi II, Jakarta, dan akan dilanjutkan di Galeri Nasional Jakarta (18-22/10), salah seorang perupa keramik terkemuka Indonesia ini memajang 46 patung dan 100 lukisan keramik teranyarnya. Sebagaimana trade mark-nya selama ini, Widayanto masih mengeksplorasi perempuan dengan pemujaan kecantikan sebagai objek karya keramik patungnya. ''Selain tidak ada yang lebih indah selain mengeksplorasi kecantikan, keanggunan, ketenangan, dan kemahsyuran perempuan, sosok perempuan yang kali ini saya satupadukan dengan kipas yang pasti sangat menjual,'' tuturnya di Jakarta kemarin ketika membuka pamerannya. Menurut dia, sosok patungnya kali ini yang didominasi perempuan dengan dandanan oriental (China), Eropa, hingga Jawa itu tetap menomorsatukan estetika dalam pengerjaannya. ''Semua hand-made atau built-up, dan saya kerjakan dengan kejelian tangan saya sendiri,'' tuturnya sembari menceritakan proses pembakaran tungku yang mencapai suhu 1250 derajat Celsius. Mewah. Dengan ukuran patung yang bervariasi dari 50 cm hingga 150 cm, plus berbagai kipas buah karya Rinaldy A Yunardi, desainer permata, patung Widayanto memang tidak hanya tampak hidup dan mewah. Hingga tidak mengherankan jika patungnya yang dikerjakan di studionya di Tapos, Jabar dihargai dari angka Rp 35 juta hingga Rp 135 juta per buahnya. ''Fenomena konsumerisme yaitu mengejar kecantikan, dalam patung Widayanto dirayakan dan sekaligus diparodikan. Inilah yang menarik dari patung-patungnya,'' tutur Asikin Hasan, kurator pameran. Sedangkan Agus Dermawan T, pengamat dan kritikus Seni Rupa Indonesia dalam tulisannya ''Mengipas-ngipas Kipas'' sebagai pengantar buku Fan-tastic Lady mengatakan: ''Kipas (pada masanya dan berkecenderungan) menjadi aksesori elite atau must have item jika dipadukan dengan sosok wanita''. Keindahan sinergisitas antara kipas dan wanita inilah oleh Widiyanto lewat media lumpur lempung disulap menjadi barang yang berharga menjadi ratusan juta rupiah. (Benny Benke-45)

Sabtu, 16 Februari 2008

Seni rupa Semarang

Sabtu, 15 Oktober 2005. BUDAYA
Pameran Lukisan di TIM Jakarta
Karya Universal 11 Perupa Semarang

BUKU Art In ''Kota Seni Rupa Modern'' terbitan Cornell University Press hanya mengakui Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Ubud (Bali) sebagai pusat seni rupa di Indonesia. Namun, Semarang kota kelahiran pelukis Raden Saleh ternyata telah menancapkan jatidiri dalam bidang seni rupa. Demikianlah nukilan tulisan Bambang Bujono, sebagai pengantar pameran 11 perupa Semarang di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, yang dibuka Jumat (14/10) malam. Pameran yang akan berlangsung hingga 27 Oktober ini menampilkan karya-karya Putut Wahyu Widodo, Kokok HS, Kokoh Nugroho, Irfan ''Ipang'' Kristiyanto, Harmanto, Doel Ahmad Besari, Djoned Koesoemadi, Deny Pribadi, Agung Yuliansyah, Atiek Krisna Sarutomo, dan Achmad Basuki. Menurut Bambu, demikian Bambang Bujono biasa disapa, kegiatan itu mengulang peristiwa 17 tahun lalu. ''Kala itu, tahun 1988, Nindityo, AS Kurniawan, Eddie Hara, Kuncoro Warsono dan dua teman mereka memromosikan Semarang dalam pameran lukisan Ekpresi Enam Semarang, yang juga digelar di TIM,'' katanya. Bambu menambahkan, antusiasme masyarakat Semarang ketika mengapresiasi Pameran Pelukis Rakyat dari Yogyakarta yang berlangsung 15-26 April 1955 di Toko Buku Kolf, Jalan Bojong (kini Jalan Pemuda) sangat tinggi.
Lalu, apa yang kurang dari Semarang, sehingga belum tercatat sebagai ''Kota Seni Rupa Modern?''. Pertanyan inilah yang hendak dijawab 11 perupa Semarang ketika menggelar Pameran Lukisan Ekpresi Garis Tepi Semarang di Galeri Cipta II, TIM, Jakarta. Kosmopolit.
Pameran yang digagas oleh Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini paling tidak, menurut Chandra Johan, sebagai Ketua Komite Seni Rupa, bertujuan merubuhkan stigma kedaerahan. ''Karena karya-karya dari perupa Semarang pada dasarnya cukup kosmopolit, dan tidak menampilkan (warna) kedaerahan. Inilah yang luar biasa,'' katanya. Tengoklah karya Putut Wahyu Widodo, Pemenang I Lomba Poster Nasional Perdamaian, Limpad Foundation (2000), dan peraih 10 Besar Kompetisi Seni Rupa IAA-Philip Morris 2003 ini, memajang enam karya terkininya yang diproduksi tahun 2004-2005. Karyanya yang berjudul ''Om Guru 2'', ''Just Om'', ''Over Mind'', ''Ya Begitulah Adanya'', ''Manna'', dan ''Equinox'' sangat universal. Karya-karya itu dikreasi dari bahan akrilik dan pastel di atas kanvas, rata-rata berukuran 135 cm x 135 cm. ''Dalam bahasa sederhana, karya Putut bahkan beyond cosmopolit,'' kata Grace, pemilik dan pengelola Galeri Elcanna Jakarta. Demikian halnya karya Kokok HS. Nominator Kompetisi Seni Rupa IAA-Philip Morris V (1995) ini menghadirkan ''Barong Duri'', ''Raja Barong'', ''Ratu Barong'', dan ''Dekora Barong'' dalam pendekatan surealis. Lalu, perupa Harmanto, finalis Indofood Art Award (2003), memajang ''Intelectual Harazement'', dengan nuansa yang ultimate pop culture. Memang, keberadaan 11 perupa Semarang di sentra kebudayaan Jakarta itu terlalu prematur jika dikatakan hendak menempatkan Semarang dalam peta seni rupa Indonesia. Namun, paling tidak, meminjam bahasa Chris Darmawan, pemilik Galeri Semarang, langkah mereka diharapkan mampu merangsang perupa Semarang untuk berani ''keluar'' . (Benny Benke-43)

Skenografi

Kamis, 13 Oktober 2005. BUDAYA
Skenografi, Menata Pameran Menjadi Lebih Hidup
Bagaimana caranya menata pameran dengan baik dan benar? Dalam seminar musiologi yang digelar di Museum Nasional Jakarta, kemarin hingga 22 Oktober, segala ikhwal yang berkenaan dengan penataan pameran atau skenografi dijabarkan dengan detail. Tengoklah berbagai karya skenografer dari Prancis seperti Roberto Ostinelli, Bruno Gaudin, Bernard Wauthier-Wurmser, dan beberapa nama lainnya. Skenografi yang melibatkan sinergisitas antara gambar, suara, teks, furnitur hingga pencahayaan sebagai media cerita dihadirkan menjadi sebuah satu kesatuan yang utuh. Keutuhan karya tersebut menghasilkan sebuah hasil cipta, karsa, dan karya yang estetis. ''Fungsi skenografi adalah mengekresikan sudut pandang sutradara pameran tentang latar belakang historis koleksinya,'' papar Pascal Hamon, Direktur Hubungan Internasional DMF (Direktorat Permuseuman Prancis- Kementerian Kebudayaan Prancis). Kurang Dikenal. Sebagai salah satu disiplin ilmu baru yang masih berkembang, keberadaan skenografi kurang begitu dikenal dalam masyarakat umum. Namun, dengan semakin marak dan kerapnya berbagai pameran yang menggunakan museum sebagai media pameran, keberadaan skenografer mau tidak mau menjadi sebuah kebutuhan yang tidak dapat dielakkan. ''Bagi para penata display, dialog sebuah karya yang dipamerkan dengan pengunjung sebagai penikmat memang sangat penting. Untuk menyuskseskan proses dialog dua arah antara karya dan penikmat inilah, seorang skenografer dibutuhkan keberadaannya,'' ujar Roland May, Kepala Departemen Konservasi Preventif Pusat Penelitian dan Restorasi Departemen Permuseuman Prancis. Dengan adanya ilmu skenografi, sebuah pameran menjadi lebih berkualitas untuk memberikan alur cerita kepada pengunjung. Sehingga pameran tidak terkesan kaku, hening, dan membosankan. Dengan alasan inilah, DMF dan AFFA (Asosiasi Prancis bidang Artistik) dan Paris Musse menampilkan berbagai seleksi pameran mereka. Pameran yang digagas oleh Centre Culture Francais (CCF) atau pusat kebudayaan Prancis di Indonesia ini, selain digelar di Jakarta, juka akan dikelilingkan di Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta. (Benny Benke, Novita Rizky Pane-45)

Travel Warning

Rabu, 12 Oktober 2005. BUDAYA
Travel Warning Hantam Promotor Konser
JAKARTA - Sepenting apakah kondisi keamanan bagi artis atau grup band mancanegara yang akan menggelar konsernya di Indonesia? ''Sangat penting,'' tandas Tommy Pratama, promotor konser musik Original Production di Jakarta, kemarin. Pernyataan yang sama dikemukakan Adrie Subono dari Java Musikindo dan Rinni Noor dari Nepathya. Para promotor itu pernah merasakan betapa pahitnya pembatalan sebuah konser yang telah direncanakan dengan rapi hanya karena travel warning dari negara asal artis bersangkutan. Sebagaimana diberitakan, Motley Crue baru-baru ini membatalkan rencana konsernya di Jakarta yang dijadwalkan November 2005. Meski manajemen mereka tidak mengakui, faktor keamananlah yang membuat grup metal dari Amerika itu membatalkan konsernya. ''Ini kendala klasik, meski sifatnya sementara, namun sangat mempengaruhi lancarnya bisnis hiburan di sini,'' kata Tommy yang pada pertengahan 2004 pernah menelan pil pahit pembatalan konser Limp Bizkit. Adrie Subono juga pernah mengalami pembatalan konser Good Charlotte, Alicia Keys, Norah Jones dan beberapa nama penting lainnya. Menurut dia, travel warning adalah kunci utama seorang artis atau grup band manca negara batal menggelar konser di Indonesia. ''Ada juga artis yang cukup mempunyai nyali untuk tetap datang dan menggelar konser. Namun justru pihak asuransi yang tidak mempunyai nyali,'' ujar promotor yang sukses menggelar enam konser, The Prodigy, Cake, Simple Plan, Avril Lavigne, Maksim ''Twilitte Orchestra/Addie MS'', dan Ja Rule dalam waktu 34 hari itu. Menurut Adrie, kriteria keamanan biasanya diletakkan sebagai pra-syarat nomor satu manajemen artis. ''Meski ini (travel warning) bersifat temporer namun dampaknya luar biasa''. Rinni Noor baru saja menerima pembatalan dari manajemen Michael Buble, penyanyi swing jazz-easy listening, yang dijadwalkan menggelar konser 16 Oktober 2005 di Plenary Hall, Jakarta. ''Pasca bom Bali II, 1 Oktober lalu memang menjadi pertimbangan utama manajeman Buble,'' katanya. Menurut Rinni, pihaknya selaku promotor telah melakukan berbagai macam cara untuk membujuk manajemen penyanyi yang melejit lewat tembang ''Kissing A Fool'' dan ''Home'' itu. Namun mereka bersikeras bahwa faktor keamanan Indonesia belum memungkinkan. Sebelumnya Rinni juga pernah mengalami pembatan konser Alanis Morisette. Tetap Optimis. Pasca tragedi bom Bali I, Otober 2002 hingga bom Bali II, travel warning menjadi momok bagi promotor konser musik artis manca negara. Efek domino dari berbagai tragedi bom memang mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan, namun menurut Adrie Subono , industri hiburan dan pariwisata terkena dampak langsungnya. Adrie mengaku punya rumusan sederhana menyiasati seringnya travel warning dialamatkan ke Indonesia. ''Kami tetap optimis aja,'' tegasnya. Tommy Pratama dan Rinni Noor juga menyatakan pembatalan konser memang membuat mereka sedih dan rugi, namun hal itu tidak menyurutkan eksistensi mereka dalam dunia bisnis hiburan. ''Tidak semua artis gentar terhadap travel warning. Sebab, bagi mereka bom bisa meledak di mana saja,'' papar Tommy, sembari memberi contoh grup rock asal Jerman, Scorpions, yang tetap menggelar konsernya meski bom baru saja meledak di Kedubes Australia, beberapa waktu lalu. Sejumlah konser memang tidak langsung dibatalkan, ada juga yang dijadwalkan ulang atas alasan keamanan. Namun dalam banyak hal momentum konser yang direncanakan menjadi hilang. ''Kalau kami disuruh menyebutkan artis mana lagi yang akan kami undang untuk konser di Indonesia, kami lebih suka untuk sementara ini merahasiakannya,'' tutur Tommy. (G20-43)

Gigi

Senin, 10 Oktober 2005 BUDAYA
"Perdamaian" ala GIGI
JAKARTA-Sadar, jeli, cermat, dan pandai membaca pasar adalah salah satu strategi untuk terus melestarikan eksistensi GIGI di belantika musik Tanah Air. Armand Maulana (vokal), Dewa Budjana (gitar), Thomas Ramdhan (bas), dan Hendy (drum) menggunakan strategi itu ketika merilis album teranyar mereka: Raihlah Kemenangan Repackage. Album yang pernah menjadi best seller pada bulan Ramadan tahun lalu itu, dikemas ulang dengan imbuhan dua buah tembang lawas yang diaransemen ulang. ''Tadinya ada empat tembang baru tapi lawas yang disodorkan pihak Sony BMG Indonesia. Setelah kami timbang akhirnya kami memilih lagu 'Perdamaian' dan 'I'Tiraf','' ujar Arman Maulana dalam peluncuran album tersebut di Hard Rock Cafe Jakarta, akhir pekan lalu. Album yang langsung laris manis hingga mencapai angka 75 ribu kopi atau Golden Gold itu, digarap sebelum keberangkatan mereka ke Amerika dalam rangka menggelar konser ''GIGI East Coast America Tour 2005'' beberapa waktu yang lalu. Aransemen "Perdamaian" ciptaan Drs H Abu Ali Haidar yang aslinya bernuansa gambus dan biasanya dibawakan kelompok kasidah atau marawis, di tangan GIGI disulap dalam corak rock ultra modern. ''Ya, intinya dibalut dalam warna kami. Kalau produser memasukkan corak musik ini dengan sebutan rock ultra modern, mungkin hanya strategi pasar belaka,'' tutur Dewa Budjana.
Sedangkan tembang "I'Tiraf" karya Abu Nawas, tidak jauh dengan warna aslinya yang bertempo lambat, dibawakan kelompok band asal Bandung ini dengan variasi tempo pada interlude. Tanggapan Positif . Sekadar mengingatkan, album Raihlah Kemenangan pernah dirilis dua hari menjelang Ramadan 2004 dan mendapat tanggapan positif dari pasar. Tembang "Tuhan" ciptaan penyair Taufik Ismail yang dipopulerkan oleh Sam Bimbo yang mendayu, di tangan Armand menjadi sangat ngerock. Demikian halnya dengan tembang "Rindu Rosul" (Sam Bimbo, Taufik Ismail) dan "Ketika Tangan dan Kaki Berkata" (Chrisye, Taufik Ismail) diaransemen dengan nuansa yang dinamis. ''Siapa menyangka jika ramuan ini mendapat sambutan hangat dari pendengar dan pencinta musik Tanah Air,'' ujar Totok, produser dari Sony BMG Indonesia.
Apakah "pelarian'' GIGI yang untuk saat ini hanya berani bermain di jalur repackage, dan bermain-main di area religiusitas hanya memanfaatkan pasar yang sedang menyambut bulan suci Ramadan? ''Insya Allah, Desember atau paling tidak awal tahun depan album kami yang benar-benar anyar kelar kok,'' tampik Armand. ''Mosok saya menunggangi Ramadan. Ini hanya kebetulan karena album ini memang penuh dengan muatan religiusitas,'' imbuh suami penyanyi Dewi Gita ini. Album yang mengemas 12 tembang ini rencananya akan diperdengarkan dalam Ramadhan Tour di lebih dari 20 kota di Jabodetabek, Jabar, dan Jateng dengan menggelar konser di sejumlah pesantren dan berkolaborasi dengan anak-anak pesantren di kota yang disinggahi. (G20-45)

Putu

Kamis, 06 Oktober 2005. BUDAYA
Konsep Teater Tanpa Naskah

TEATER Mandiri didirikan Putu Wijaya pada 1971. Nama teater itu diambil dari istilah kemandirian yang berasal dari bahasa Jawa dan dipopulerkan oleh Profesor Djojodigoeno, dosen Sosiologi UGM Yogyakarta sebagai pengertian dari independence. Pada awalnya, Teater Mandiri mengisi acara sandiwara TVRI, yang saat itu sebagai satu-satunya stasiun teve di Indonesia, menampilkan lakon Orang-orang Mandiri. Selanjutnya, mereka menggarap dua lakon, Aduh dan Kasak Kusuk. Namun, keduanya tidak pernah disiarkan karena dianggap tidak mendukung politik pemerintah saat itu. Tahun 1974, kelompok teater ini mulai menggelar pentas di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Kali pertama menampilkan lakon Aduh dan Anu. Tahun 1975, kelompok ini merintis sebuah konsep tontonan tanpa naskah, dimulai dengan 3 pagelaran, yakni Lho, Entah dan Nol. Konsep tontonan tanpa naskah ini didominasi oleh musik dan imaji-imaji visual di sepanjang pertunjukan. Konsep ini memunculkan Teater Mandiri sebagai kelompok teater yang berbeda dari kebanyakan kelompok teater yang ada di Indonesia. Namun, mereka juga tetap mementaskan pertunjukan yang menggunakan naskah, antara lain Hum-Pim-Pah, Dor, Edan, Blong, Los, Gerr, Aum, Tai, Front serta Aib dan Wah. Tahun 1990, Teater Mandiri mewakili Indonesia berkeliling ke 4 kota di Amerika Serikat, Connecticut, New York, Seattle dan Los Angeles dengan konsep teater tanpa naskah. Mereka hanya menampilkan bayangan dan layar raksasa dengan judul Yel,. Konsep yang sama juga dilakukan untuk lakon Bor yang dipentaskan di Brunei Darussalam. Dengan idiom layar dan bayangan ini, Teater Mandiri juga mementaskan The Coffin is Too Big for the Hole karya Kuo Pao Kun (Singapura) di Festival Teater Asia 2000 di Tokyo, Jepang. (Benny Benke-43)