Sabtu, 16 Februari 2008

teater Mandiri

Kamis, 06 Oktober 2005. BUDAYA
Teater Mandiri Raih Penghargaan di Mesir
JAKARTA - Teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya meraih penghargaan sebagai Best Essemble Work dalam Cairo International Festival for Experimental Theater (CIFET) 2005 di Kairo, Mesir, pekan lalu. Lakon yang pernah dipentaskan di Grha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, itu dalam festival tersebut dimainkan dengan judul Shifro. CIFET yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan Arab Mesir, tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-17 dan diikuti 42 negara. Dunia teater Indonesia patut berbangga atas prestasi Teater Mandiri, yang berdiri sejak 1971 dan dikenal sebagai kelompok teater yang unik. Manajer Teater Mandiri Egy Massadiah yang bertindak sebagai ketua rombongan Teater Mandiri di Kairo, kemarin mengabarkan keberhasilan yang dicapai ini dirayakan secara sederhana dengan syukuran di Wisma Duta Besar RI di Kairo. Seniman Yordania. Dalam CIFET 2005 gelar Best Essemble Work diraih oleh dua grup, yakni Teater Mandiri lewat lakon Shifro-Zero dan Teater Ikatan Seniman Yordania yang menampilkan lakon El Khuruj ila ed Daakhil (Keluar ke dalam). Sementera itu, gelar Pemeran Pria Terbaik diraih Fernik Filr (Mesir) yang tampil dalam lakon Nadrah Midusa el Hadah (Pandangan Tajam Medusa). Seniman Irak, Haidar Munatsir meraih hadiah Sinografi Terbaik lewat pertunjukan Hariq el Banafsaj. Syria memperoleh Hadiah Pertunjukan Terbaik melalui Faudho (Keributan), dan sutradaranya Abdul Mun'im el Amairi terpilih sebagai sutradara terbaik. Sementara itu, aktris Syuruq Muhammad (Yaman) meraih gelar Pemeran Wanita Terbaik lewat lakon Anta . Hasil penilaian festival tersebut diumumkan oleh Ketua Tim Juri, Mark Houl Ameetin (Amerika Serikat) dalam konferensi pers di kantor Majelis Tinggi Kebudayaan Mesir. Tim Juri terdiri atas Adrian Dee Stivaano (Argentina), Pure Alexander (Rusia), Trens Surus (Belanda), Juee An (China), Deminik Brudan (Perancis), Maldina Falluki (Italia), Hidnyaga Ituri (Jepang), Wulf Bung (Jerman), Yusuf Al Aani (Irak) dan Faridah Naqasy (Mesir). (G20-43)

Teguh Karya.

Kamis, 29 September 2005. BUDAYA
Jejak Langkah Maestro Sinema Indonesia
Konser A Tribute to Teguh Karya

JAKARTA - Tepat pukul 21.00 WIB, overture pembuka yang dibawakan Twilite Orchestra dengan konduktor Addie MS membuka konser A Tribute to Teguh Karya. Setelah itu, Slamet Rahardjo Djarot, salah seorang murid maestro sinema Indonesia itu menyampaikan narasi tentang perjalanan hidup Lim Tjoan Hok alias Teguh Karya. ''Sebelum berubah menjadi Teguh Karya atas anjuran Bung Karno, Lim Tjoan Hok memperkenalkan dirinya dengan nama Stevanus Lim atau Steve Lim,'' tutur Slamet yang menggagas konser di Balai Sarbini, Jakarta itu bersama Teater Populer. Sejurus kemudian, tembang ''Ranjang Pengantin'' yang dilantunkan Harvey Malaiholo menyihir sekitar 1.000 penonton, termasuk Jaksa Agung Abdulrahman Saleh, Kepala Bappenas Sri Mulyani Indrawati, Adi Sasono, Wiranto, Suryo Paloh dan beberapa tokoh nasional lainnya. Setelah Harvey menghantarkan kemerduan suaranya, ''Kijang Muda'' menggema lewat lantunan Ruth Sahanaya. ''Sebagaimana pengakuan Ruth kepada saya, dia adalah salah satu pengagum Pak Teguh,'' kata Slamet sebelum Ruth naik ke panggung yang dilatarbelakangi sebuah layar yang menggambarkan highlight film-film garapan Teguh Karya. Menurut Slamet yang dengan rileks menuntun alur konser, acara itu merupakan gambaran jejak langkah Teguh Karya yang tidak didiskripsikan secara kronologis. ''Namun sengaja kami kemas dengan melompat-lompat tanpa mengurangi sedikitpun penghormatan kami kepada almarhum''. Nostalgia Para Murid . Setelah music score film November 1828 mengalun, Rafika Duri dengan kalem melantunkan ''Kerbau Jantan'', soundtrack film pertama Teguh Karya, ''Wajah Seorang Laki-Laki'' (1970). Setelah Rafika mendapat aplaus, giliran Anna Mantovani menembangkan ''Cinta Pertama''. Dan, inilah yang ditunggu-tunggu, Christine Hakim, salah seorang anak didik Teguh melenggang ke panggung bersama Slamet Rahardjo. Christine masih menyisakan butiran air mata di pipinya. ''Saya tidak tahu apa yang akan saya katakan. Saya hanya berharap bila dia ada di sini, betapa dia adalah orang yang paling bangga dan bahagia (kepada murid-muridnya),'' kata Christine sembari menyeka air matanya. Dia lalu mempersilahkan Eros Djarot ke panggung untuk menendangkan lagu karnya sendiri ''Merpati Putih'' dari film Badai Pasti Berlalu (1979) bersama kakaknya, aktor dan sutradara Slamet Rahardjo Djarot. ''Inilah orang yang paling sering bertengkar secara ide dengan Pak Teguh,'' kata Christine memperkenalkan sutradara Tjoet Nya' Dhien itu. Secara keseluruhan konser A Tribute to Teguh Karya yang music composer-nya ditangani Idris Sardi dan Eros Djarot dan dimainkan oleh Twilte Orchestra dengan konduktor Addie MS, berjalan menghanyutkan. Nuansa noltalgia dan air mata kental dalam setiap alunan tembang. Idris Sardi yang juga membawakan tembang ''Lagu Rumah Atas Pasir'' lewat lengkingan biolanya cukup mampu membuat terkesima penonton. Konser untuk mengenang 33 tahun persahabatan antara murid Teguh Karya itu dihadiri oleh murid-murid Teguh lainnya seperti Nano Riantiarno, Alex Komang, dan Lenny Marlina. (Benny Benke-43).

Ruth

Jumat, 16 September 2005. NASIONAL
Live in Concert Ruth Sahanaya
Pembuktian sang Diva

BELUM usai penonton terhenyak, tiba-tiba mereka kembali dibuat terpukau dengan penampilan Ruth Sahanaya dalam konser tunggalnya yang bertajuk "Live in Concert Ruth Sahanaya". Sebelumnya, penonton disuguhi dengan lengkingan suara khas Uthe, panggilan akrab Ruth Sahanaya yang tampil dengan goyangannya. Di tengah tembang "Keliru" yang dilantunkan Uthe, tiba-tiba dari bawah panggung muncul Glenn Fredly. Penyanyi nyong Ambon itu keluar sembari menimpali tembang tersebut dengan suara khasnya. Sontak ribuan penonton yang menyaksikan konser itu kembali larut dalam teriakan histeris dan tepuk tangan yang membahana. Sebagian besar penonton tak menyangka, Glenn yang malam itu bertindak sebagai bintang tamu muncul di tembang tersebut. Selanjutnya duet Uthe dan Glenn kembali melantunkan tembang "Selangkah Bersama". Ya, semalam Uthe membuktikan kedivaannya sebagai salah satu penyanyi berkualitas yang dimiliki Indonesia dalam konser di Plenary Hall, Jakarta Convention Centre (JCC). Dengan iringan Erwin Gutawa Orchestra, Uthe membawakan 25 tembang selama hampir dua jam tanpa jeda. Berbagai genre musik ia suguhkan demi kerinduan para penggemarnya. Terang saja, penonton seakan seperti mendapat "guyuran air" di tengah kerinduan mereka akan kembalinya Uthe menggelar konser. Mereka seakan tak diberi jeda waktu untuk menghela napas panjang. Diajak Bernostalgia. Selain menyanyi, dengan diiringi 20 penari latar, Uthe juga didaulat untuk tampil sambil menari. Hal yang tak biasa dilakukan oleh Uthe sebelumnya. Penampilanya semalam semakin mengkukuhkan perempuan kelahiran 1 September 1966 ini sebagai salah satu diva Indonesia. Uthe membuka konser dengan tembang "Bawa Daku Pergi". Tembang tersebut seakan menjadi anak panah yang dilesatkan dari busurnya. Penonton yang datang sedari pukul 18.00 tak menunggu lama untuk mengikuti alunan bait-perbait tembang yang dinyanyikan perempuan bertinggi badan 154 cm dan berat 45 kg tersebut. Berturut-turut tembang "Dansa", "Aku Tergoda", "Seputih Kasih", dan "Merenda Cinta" keluar dari mulut isteri Jefry Woworuntu itu. Tembang-tembang tersebut seakan kembali mengingatkan penonton, yang tak hanya dari kalangan berumur tapi juga para remaja, untuk bernostalgia. Simak saja, seperti kala Uthe melafalkan tembang "Jatuh Cinta", "Kaulah Segalanya Untukku", "Memori", dan "Amburadul". Penonton seakan diajak untuk bernostalgia. Tembang-tembang tersebut melambungkan nama perempuan berdarah Ambon kelahiran Bandung ini. Sebagian besar penonton seakan kembali diajak bernostalgia setelah menunggu jeda waktu selama 12 tahun. Ya, 12 tahun lalu Uthe pernah menggelar konser tunggal di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta, tepatnya pada akhir Januari 1993. Arranger dan penata artistiknya pun saat itu ditangani Erwin Guatawa dan Jay Subiyakto. Penyanyi yang sudah menelorkan 12 album itu kembali membuat jantung penonton berdegup kencang. Saat membawakan tembang "Astaga", Uthe melantunkannya nyaris tanpa cela. Kekuatan lengkingan vokalnya yang berkarakter sanggup membius telinga para pendengarnya. Apapun kalimatnya, penampilan Uthe semalam seakan sulit untuk dieja dan tak terlukiskan. Ya, konser tersebut seakan sebagai pembuktian bagi sang diva. (Fahmi Z Mardizansyah, Benny Benke-45)

Khatulistiwa Literary Award 2005

Rabu, 07 September 2005. BUDAYA
Lima Prosa dan Lima Puisi Berebut Khatulistiwa Literary Award 2005
JAKARTA-Cermin Merah karya Nano Riantiarno), Kitab Among Kosong (Seno Gumira Ajidarma), Nayla (Djenar Maesa Ayu), Parang Tak Berulu (Raudal Tanjung Banua), dan Sihir Perempuan (Intan Paramaditha) akan memperebutkan Katulistiwa Literary Award (KLA) 2005 untuk kategori prosa. Sedangkan "Gugusan Mata Ibu" karya Raudal Tanjung Banua, "Indonesiaku" (Hamid Jabbar), "Kekasihku" (Joko Pinurbo), "Kerygma dan Martyria" (Remy Sylado), dan "Matahari-matahari Kecilku" (Imam Budi Santosa) akan bersaing menjadi yang terbaik dalam kategori puisi. Dalam pengumunan lima besar KLA 2005 di QB World Book, Semanggi, Jakarta, kemarin, Riris Toha Sarumpaet, selaku koordinator tim juri menegaskan bahwa terpilihnya kelima masing-masing kategori tersebut telah melalui proses seobjektif mungkin. "Menilik pada penyelenggaraan kelima setelah bergulir sejak 2001, proses penjurian KLA terus mengalami penyempurnaan," ujar Riris, yang juga pengajar di Fakultas Budaya Universitas Indonesia. Menurut dia, tahap pertama penjurian KLA 2005 telah berlangsung 1-4 Juni 2005. Pada tahap tersebut, ketujuh juri (yang dirahasiakan namanya) menominasikan sepuluh karya sastra dari karya yang terbit antara Juni 2004-Mei 2005, untuk kategori prosa dan puisi. Sedangkan acuan awal yang digunakan tim juri yang bekerja marathon karena terlalu banyaknya karya yang diseleksi berdasarkan pada: 1. Inovasi dalam teknik penulisan, dan penggunaan perangkat-perangkat sastra. 2. Orisinalitas dalam penggunaan dan eksplorasi bahasa. 3. Kedalaman penggarapan tema atau cerita. 4. Sumbangan karya sastra secara keseluruhan bagi perkembangan sastra Indonesia. "Meski kami juga menyadari bahwsa penilaian ini tidak terlepas pula dari subjektivitas para dewan juri dengan segala keterbatasan kemanusiaannya," imbuh Riris. Menurut Riris, tahap kedua seleksi KLA 2005, berlangsung 5 Juli-26 Agustus 2005. Karya-karya hasil tabulasi tahap I di kantor akuntan publik Ernst & Young, kembali diteliti oleh tim juri tahap II. Yang terdiri dari 15 orang dan bukan merupakan juri tahap I atau tahap III. "Mereka saya pilih dari berbagai kalangan yang kualifikasi dalam pengalaman membaca yang tidak meragukan lagi. Jadi mereka tidak harus mengusai susastra, namun cukup mencintai dunia dan kehidupannya". Para juri yang saling tidak mengenal identitas sesama dewan juri dengan harapan mampu menjaga kerahasiaan inilah yang diharapkan dapat menghasilkan pilihan yang benar-benar mumpuni. Bahkan dengan ancaman keanggotaan mereka sebagai dewan juri akan dicabut jika membicarakan apalagi membocorkan nominasi, KLA 2005 diharapkan mampu meminimalisasi unsur subyektivitas. Pada tahap terakhir penjurian yang melibatkan 21 juri, kelima prosa dan puisi peraih KLA 2005 akan diumumkan pada 30 September 2005, di Atrium Plaza Senayan Jakarta. "Pemenang prosa akan menerima hadiah Rp 100 juta dan pemenang puisi Rp50 juta," ujar Richard Oh, penggagas KLA, sembari menambahkan, para pemenang akan diikutkan dalam International Writers Festival di Ubud Bali pada 8-11 Oktober 2005. (G20-45)

Kongres Kesenian

Selasa, 06 September 2005. BUDAYA
Kongres Kesenian Indonesia 2005 Digelar
JAKARTA-Kesenian adalah aset negara yang memerlukan pemeliharaan, pertumbuhan, dan pengembangan yang tepat serta berkesinambungan. Dengan demikian, negara berkewajiban memberikan ruang kebebasan berekspresi, kesempatan eksplorasi, dan fasilitas dalam bentuk saran dan tunjangan dana yang memungkinkan kesenian tidak hanya menjadi klangenan tapi juga cahaya bangsa. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Ir Jero Wacik SE menyatakan hal itu kepada wartawan berkaitan dengan rencana penyelenggaraan Kongres Kesenian Indonesia (KKI) II 2005. Kegiatan yang digelar di Padepokan Pencak Silat TMII Jakarta, 26-30 September 2005, tersebut melibatkan 500-an peserta dari seluruh provinsi di seluruh Indonesia. Kongres yang diikhtiarkan untuk mencari dan mensiasati realitas kesenian di Indonesia itu, akan diramaikan dengan kehadiran seniman, budayawan, pengamat, kritikus, kurator, event organizer, rumah produksi, pemikir kebudayaan, birokrat, impresario, lembaga pendidikan seni, serta wartawan seni dan budaya. Pokok Bahasan. Kongres KKI II akan membahas lima pokok bahasan, yakni Seni dan Industri dalam Perspektif Loka, Nasional, dan Internasional, Kajian dan Pendidikan Seni, Fungsi Kesenian di Masyarakat, Hukum, Profesionalisme Seni dan Pengelolaan Kesenian, serta Dinamika dan Kreativitas Media Seni. ''Kelima pokok bahasan ini akan diurai dalam 25 topik yang akan dibahas dalam sidang pleno, sidang grup, dan forum pekerja seni dalam bentuk talk show,'' kata Sri Hastanto, Dirjen Seni dan Film yang juga bertindak sebagai salah seorang panitia dari pihak pemerintah. Dengan melibatkan pembicara dari kalangan pakar seni, industri (seni), hukum (pajak), LSM, akademisi, pertelevisian/film, organisator kesenian, hingga media massa, KKI II 2005 diharapkan dapat menelorkan keputusan-keputusan yang berbobot. Pihak yang terlibat di antaranya Komisi XI DPR RI, Ditjen Pajak Depkeu, Putu Wijaya, Arswendo Atmowiloto, Ratna Riantiarno, Nungki Kusamustuti (Jakarta), Benny Yohannes (Bandung), Sapto Rahardjo (Yogyakarta), Ben Pasaribu (Medan), Taufik Ikram Jamil (Riau), Halilintar Latief (Makassar), Endo Suanda (Bandung), dan Sutanto Mendut (Magelang). Panitia KKI II hingga 10 September masih memberikan kesempatan bagi para seniman (teater, sastra, tari, rupa) dari seluruh provinsi Indonesia untuk mendaftarkan diri secara langsung melalui www.kki2005.com. 'Namun demikian, setiap daerah atau provinsi hanya berhak mengirimkan empat wakil, dan peserta KKI II akan kami seleksi dengan ketat,'' papar Putu Wijaya, salah seorang tim pengarah. (G20-45)

Infotainment

Rabu, 31 Agustus 2005. BUDAYA
Dibenci Artis tapi Juga Dibutuhkan

JAKARTA - Infotainment, siapa yang tidak mengenal kata ini. Sebuah terminologi yang berasal dari kata information dan entertainment ini telah menjadi bagian kehidupan masyarakat pemirsa teve. Bayangkan, berdasarkan data Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), saat ini terdapat 112 program tayangan berjenis infotainment, dan 68 tabloid yang menyoroti berbagai tingkah polah para selebritis. Meski secara jurnalistik cara kerja awak infotainment sering dikeluhkan para nara sumber, khususnya artis, para artis sangat membutuhkannya. Mereka memang membutuhkan publikasi untuk menjaga atau meningkatkan popularitas di bisnis hiburan. Persoalan itu dikupas dalam "Diskusi Publik; Menyoal Jurnalisme Infotainment" di Kantor KPI, Jl Gajah Mada, Jakarta, Selasa (30/8). Diskusi menghadirkan pembicara Ilham Bintang (Pemred Program dan Tabloid Cek & Ricek), Adhe Armando (KPI), Veven SP Wardana (pengamat media TV) dan Sarah Azhari (artis). Acara yang mendapat sambutan meriah dari pekerja infotainment itu berjalan gayeng. Tengoklah ketika Sarah Azhari yang kerap berseteru dengan pekerja infotainment menumpahkan segala kekesalannya. "Bagaimana mungkin saya menaruh respect dengan para pekerja infotainment jika konfirmasi yang saya berikan hampir selalu berbeda statemennya begitu keluar di layar kaca," kata adik Ayu Azhari itu. Menurut Sarah, yang mengaku sering didiskriminasikan infotainment, pola kerja para awak "gosip" tersebut serampangan. Kemarahan Sarah dimaklumi Adhe Armando dan Veven SP Wardana. Menurut keduanya, para pekerja infotainment, karena tuntutan pekerjaannya, sering menghalalkan segala cara untuk mendapatkan berita dari narasumber. "Memang ada kecenderungan infotainment menjurus pada jurnalisme yang mengintimidasi narasumber," kata Adhe, yang mengaku KPI sering mendapatkan surat keluhan dari masyarakat tentang isi infotainment yang menyajikan perkelahian dan perceraian rumah tangga para artis. Veven juga menyoroti sepak terjang kru infotainment yang cenderung seenaknya menerabas mainstream kode etik jurnalistik, yang biasa diterapkan media cetak yang mapan. "Menggedor-gedor mobil narasumber, mengumpat, mencuri visualisasi dan pernyataan narasumber, sama saja maknanya dengan mencundangi atau memantati kode etik jurnalistik." Otoritas Kebablasan. Pekerja infotainment telah diakui sebagai wartawan oleh PWI pada 2004. Namun, mereka sebenarnya pekerja untuk production house (rumah produksi) yang badan hukumnya bukanlah media pers, sehingga keberadaan mereka dipertanyakan. "Kami menyadari itu, mereka memang dinilai sering tidak menangkap secara jernih substansi persoalan. Mereka lebih sering mendahulukan sensasi," tutur Ilham Bintang. Namun, Ilham menambahkan, jika narasumber atau artis merasa dirugikan dengan pola kerja infotaiment bisa langsung mengadukannya secara hukum. Ilham juga mengingatkan para awak infotainment agar tidak melulu menggunakan UU Pers No 40 Tahun 1999 dalam proses peliputannya untuk menakut-nakuti narasumber yang menghalangi kerja jurnalistiknya. "Terkadang sebagai wartawan, otoritas awak infotainment kebablasan," kata Ilham sembari menyontohkan sebuah narasi infotainment yang memojokkan pasangan selebritis yang menikah diam-diam. "Apa otoritas wartawan infotainmnet sehingga bisa seenaknya harus mengetahui semua perkawinan para selibritis?" tanya dia. Menurut dia, ironisnya malapraktek yang kerap dilakukan pekerja infotainment dalam tugasnya justru mendapatkan tanggapan pemirsa yang paling tinggi. Hal ini terlihat dengan rating infotainment yang cukup besar. Malah lebih besar dibandingkan dengan program news televisi. "Dalam dunia televisi, penonton yang banyak berarti sebuah acara memiliki nilai ekonomi yang cukup bagus," kata Ilham.(G20-43)

CP Biennale 2005

Selasa, 30 Agustus 2005. BUDAYA
CP Biennale 2005
Gambaran Fungsi Sosial Seni Rupa

JAKARTA-Sempat mencuri perhatian masyarakat seni dunia pada penyelenggaraan pertamanya pada 2003 lalu, CP Biennale kedua digulirkan tahun ini. Jika pada September 2003, Biennale atau agenda seni dua tahunan itu mengusung tema "Interpelation", pada 2005 ini tema "Urban/Culture" menjadi pilihannya. Agenda seni kontemporer bergengsi yang oleh harian berpengaruh Amerika Serikat The New York Times ditulis sebagai ''A Biennale that puts Indonesia on the map '' ini boleh jadi akan semakin mencatatkan nama Indonesia dalam peta seni dunia. Betapa tidak, dengan melibatkan 18 peserta dari luar negeri dan 52 peserta dari Indonesia, Biennale kali ini akan menjadi perhelatan seni kontemporer yang benar-benar berkualitas dan menyenangkan. Peserta dari mancanegara yang terdiri atas dua grup arsitek, dua fotografer, 14 perupa/pelukis sedangkan dari Indonesia terdiri atas 20 perupa/pelukis/kartunis, 16 kelompok perupa dan komunitas, tiga kelompok arsitek yang bekerja sama dengan perupa, enam arsitek/grup arsitek, empat fotografer/kelompok fotografer, dan tiga kelompok perancang grafis. ''Penyelenggaraan tahun ini kami rancang juga untuk memperingati ulang tahun ke-60 RI dan peringatan 50 tahun Konfrensi Asia Afrika,'' ujar Jim Supangkat, Ketua Dewan Kurator, di Jakarta, kemarin. Menurut Jim, kegiatan yang akan dipusatkan di Museum Bank Indonesia, Jakarta Kota 5 September-5 Oktober 2005 ini secara kurasi bertujuan menampilkan gambaran lebih jelas tentang fungsi sosial seni rupa, khususnya di Tanah Air. ''Tema Urban/Culture menyodorkan persoalan yang punya berbagai dimensi, yaitu masalah perkembangan dan kemajuan, masalah sosial, ekonomi dan politik, dan juga masalah sejarah,'' katanya. Masyarakat Urban. Dalam perkembangan seni rupa Indonesia, menurut Jim, tercatat arus besar kecenderungan yang mengangkat masalah sosial. ''Apabila diamati dengan cermat sebagian besar masalah sosial yang diangkat adalah persoalan yang muncul di kota-kota besar. Hal ini terlihat dengan sangat banyaknya pameran yang mempersoalkan masalah masyarakat urban'', imbuh dia. CP Biennale 2005 dibiayai secara kolektif oleh CP Foundation dan lembaga-lembaga internasional. Selain dana CP Foundation dan UBS sebagai donatur tetap CP Foundation, dana didapat dari lembaga-lembaga internasional yang biasa mendanai pameran-pameran internasional yang tidak komersial. Di antaranya Prince Claus Fund dari Belanda, Asian Cultural Council Rockefeller Foundation, New York, The Japan Foundation Tokyo, dan Goethe Institute. ''Sementara itu lembaga-lembaga seperti National Art Council Singapura dan Erasmus Huis membiayai kesertaan perupa dan pembicara seminar dari negara masing-masing,'' ujar Naning Bambang Sugeng selaku manajer produksi. Sedangkan seminar dengan tema Urban Reflection yang menyertai CP Biennale 2005 akan diselenggarakan pada 6 September 2005 dan membahas berbagai dimensi persoalan masyarakat urban. Acara pembukaan itu sendiri akan dibuka oleh Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah. (G20-45)