Sabtu, 16 Februari 2008

Sherina

Jumat, 26 Agustus 2005. BUDAYA
Kerlip Bintang di Tengah Kelangkaan Penyanyi Cilik
JAKARTA - Siapa yang tak kenal Sherina, penyanyi cilik dengan kemampuan vokal yang prima dan menggemaskan. Juga si imut Tasya, yang aksi panggungnya sering mengundang decak kagum. Keduanya adalah penyanyi cilik yang tak sekadar berani menyanyi, tetapi memang seorang entertainer sejati. Pentas mereka selalu ditunggu anak-anak. Sebelumnya, ada Joshua, Trio Wek-Wek dan Agnes Monica yang tak kalah mengemaskannya. Namun, waktu berjalan dengan cepat, dan mereka semua kini telah beranjak remaja. Ada yang tetap eksis sebagai penyanyi. Ada pula yang menghilang entah kemana. Namun, mereka tetap dikenang sebagai bintang cilik yang pernah meramaikan dunia hiburan di Tanah Air. Regenarasi penyanyi cilik, dalam arti yang benar-benar memiliki kualitas sebagai penyanyi, memang tak sebaik penyanyi remaja atau dewasa. Maka, ketika seorang bintang cilik muncul, dia akan segera menjadi sorotan. Di tengah sepinya penyanyi cilik kini muncul nama Rebecca, gadis cilik yang masih duduk di klas 6 SD. Rebecca mencoba membuktikan talentanya sebagai penyanyi dengan bekal suara yang tidak mengecewakan. Betapa tidak, dia pernah meraih medali perak pada Children Choir Olympics di Busan, Korea, Oktober 2002 dan Children Choir & Folklore Instrumental Accompaniment di Bremen, Jerman, Juli 2004 ini. Dengan bekal itu, dia bersiap menjadi kerlip bintang di kelangkaan penyanyi cilik saat ini dengan merlis sebuah album. Irama Orkestra. ''Persiapan album ini lebih dari dua tahun, dan kami harus bersiasat dengan perubahan suara Beca yang terus berubah sesuai dengan perkembangan usianya,'' jelas Doddy Sukarman, aranger album bertajuk Rebecca ini,'' di Jakarta, kemarin. Album yang merangkum 10 tembang dengan menyertakan tembang lama ''Tanah Air'' (Ibu Sud) dan ''Indonesia Pusaka'' (Ismail Marzuki), serta single hits ''Kunang-Kunang'' (Arnoldy F Sukarman) tampaknya digarap dengan keseriusan yang terjaga. Hampir semua lagu disajikan dalam balutan irama orkestra, serta diperkaya dengan racikan jazzy, pop, dan hymne. Album yang bernaung di bawah bendera Malta Music Indonesia ini tampaknya akan menjadi lang kah awal yang menjanjikan banyak harapan.
''Saya hanya ingin menyanyi dan menyanyi, meski sebenarnya cita-cita saya ingin menjadi dokter,'' kata Beca seusai memamerkan kemerduan cengkok suaranya. ''Tapi saya nggak seneng biologi, jadi saya ingin jadi penyanyi saja''. Ah, kanak-kanak memang apa adanya. Dengan bakat besar yang dimilikinya, siapa yang tahu nasib mujur akan menaungi gadis cilik itu. (G20-43)

Mick

Kamis, 25 Agustus 2005. BUDAYA
Bibir Dower Bergelar Bangsawan
SIR Michael ''Mick'' Philip Jagger. Siapa yang tidak mengenal pria berbibir lebar alias dower ini? Dia adalah musikus, aktor, penulis lagu, komposer, dan produser yang lebih dikenal dengan nama Mick Jagger. Sebagai lead vokal dan pendiri The Rolling Stones bersama Brian Jones (almarhum), Jagger tidak hanya telah membuktikan diri menjadi ikon, motor, dan tanda bagi grup band bentukan tahun 1962 itu. Lebih dari itu, putra Joe dan Eva Jagger kelahiran 26 Juli 1943 di Dartford, Kent, Inggris ini, telah menjadi sukma bagi grup band beraliran rock n roll ini. Mengawali karier bermusik pada usia belasan dengan membentuk band bernama Little Boy Blue & the Blue Boys yang beraliran rock n roll. Tak lama kemudian dia bertemu dengan bakal gitaris Rolling Stones, yaitu Keith Richards, ketika keduanya sama-sama duduk di Dartford Maypole County Primary School. Karena sama-sama menggemari rock n roll dan blues, keduanya sepakat bersama Brian Jones membentuk The Rolling Stones, dengan melibatkan Bill Wyman, dan Charlie Watts. Seiring berjalannya waktu, nama Rolling Stones telah menancapkan diri menjadi legenda hidup dengan segala kebesarannya. Pada suatu periode mereka pernah akrab dengan obat terlarang dan menjadi contoh buruk yang tidak pantas diteladani. Namun mereka bisa berubah dan tetap menjadi idola di berbagai penjuru dunia. Kebesaran Rolling Stones hingga kini tidak terbantahkan, khususnya sosok Mick Jagger. Bibir lebar dengan lidah menjulur akhirnya menjadi ikon supergrup ini. Bahkan, Kerajaan Inggris secara resmi menganugerahi Mick Jagger gelar Ksatria atau Knight pada 12 December 2003 atas pengabdiannya dalam perkembangan musik popular. Mengenai gelar bangsawan dari Ratu Inggris Elizabeth kepada Mick Jagger, motor Rolling Stones lainnya, ''Sang Pangeran Kegelapan'' Keith Richards berkomentar lirih, ''Ini gelar yang penuh lelucon''. ''Saya tidak dapat membayangkan sepanggung dengan seorang vokalis yang mengenakan baju zirah perang dan pedang di tanggannya,'' kata Ricards menggoda Jagger. Dan Sir Mick Jagger hanya tersenyum. (Benny Benke-43)

Discography The Rolling Stones
- Beggars Banguet (1968)
- Let It Bleed (1969)
- Sticky Fingers (1971)
- Exile on Main Street (1972)
- Some Girls (1978)
- Tatto You (1981)
- Dirty Work (1989),
- Steel Wheels (1989)
- Voodoo Lounge (1994)
- Bridges to Babylon (1997)
- Live Album - Stripped (1995)
- Hits Collection Forty Licks (2002)
- A Bigger Bang (2005)

The Rolling Stones

Kamis, 25 Agustus 2005. BUDAYA
The Rolling Stones Masih Menggelinding .
Rilis Album Baru ''A Bigger Bang''

ADAKAH grup band yang paling ditunggu-tunggu kehadiran album barunya di muka bumi ini selain Rolling Stones? Pertanyaan itu bukanlah sebuah kecongkakan. Kelegendarisan grup band yang dibentuk di London, Inggris, tahun 1962 ini memang tidak terbantahkan. Popularitas Mick Jagger sebagai selebritis dengan segala polah tingkahnya tak membuat anggota lain iri. Maka, grup ini mampu bertahan lebih dari 40 tahun dan terus menggelinding dengan menggelar konser dan memproduksi album baru. Hanya Beatles dan Bob Dylan yang dinilai mampu menyejajari kebesaran band yang beranggotakan Mick Jagger (vokal), Kieth Richard (gitar), Charlie Watss (drum), dan Ron Wood (rythm) ini. Setelah delapan tahun album Bridges to Babylon (1997) beredar, Rolling Stones akan segera merilis album baru A Bigger Bang. Album tersebut siap digelindingkan ke pasar mulai 5 September 2005. Album tersebut berisi 16 lagu baru, yakni ''Rough Justice'', ''Let Me Down Slow'', ''It Wont Take Long'', ''Rain Fall Down'', ''Streets Of Love'', ''Back of My Hand'', ''She Saw Me Coming'', ''Biggest Mistake'', ''This Place Is Empty'', ''Oh No Not You Again'', ''Dangerous Beauty'', ''Lough I Nearly Died'', ''Sweet Neo Con'', ''Look What The Cat Dragged In'', ''Driving Too Fast'', dan ''Infamy''. Di kantor EMI Indonesia, Jl Rasuna Said Jakarta, Rabu (24/8), lagu-lagu dalam album A Bigger Bang diperdengarkan untuk kali pertama di Indonesia. ''Secara resmi al-bum ini telah diperdengarkan kali pertama dalam konser di Fenway Park, Boston, Amerika Serikat, 21 Agustus kema-rin,'' tutur Petty dari EMI Indonesia. Hits Andalan. Album dengan single hits andalan ''Streets of Love'' ini masih mengacu pada corak Rock n Roll sebagaimana trade mark Rolling Stones. ''Secara musikalitas sebenarnya Rolling Stones te-lah selesai setelah album Tattoo You (1981), dan yang tersisa sekarang hanya semacam sisa-sisa kebesaran nama mereka,'' tutur Denny Sakrie, salah seorang pengamat musik Indonesia, mengomentari A Bigger Bang yang digarap hampir setahun itu. Meski secara musikalitas pencarian Rolling Stones telah usai, tambah Denny, stamina mereka tetap tidak terbantahkah untuk terus berkarya. ''Faktor usia tidak bisa dibantah turut mempengaruhi kreatifitas mereka dalam bermusik,'' katanya, seraya menyatakan salut terhadap stamina para angota Rolling Stones yang rata-rata telah berusia di atas 60 tahun. Grup band datang dan pergi. Namun yang akhirnya mampu menjadikan dirinya legenda hidup dapat dihitung dengan jari. The Rolling Stones adalah satu di antara sedikit legenda yang masih tersisa dengan kebesarannya. Para punggawa Rolling Stones yang kini telah menjadi kakek-kakek, dan lebih gemar bermain-main dengan anak cucu mereka, harus melewati perjuangan panjang untuk sampai pada posisi mereka di dunia musik. Upaya mereka untuk terus menggelindingkan karya-karya baru di usia tua juga bukan pekerjaan mudah. ''Seperti menegakkan benang basah,'' kata Mick Jagger singkat dalam situs resmi grup itu. Ya, siapa yang mengira jika para pemberontak seperti Jagger, Ricards, Brian Jones (almarhum), Bill Wyman, dan Watts mampu melawan tren musik yang sedang in pada waktu itu lewat Rock n Roll. Bahkan, tembang-tembang seperti ''(I Can't Get No) Satisfaction'', ''Street Fighting Man'', ''Sympathy for the Devil'', dan ''Gimme Shelter'' mampu membius dan mempengaruhi prilaku anak muda pada masanya. Bukan hanya itu, muatan filosofis tembang ''You Can't Always Get What You Want'' te-lah menggugah kesadaran kaum muda mengenai realitas hidup, bahwa tidak semua hal bisa di-dapatkan dalam hidup ini. (Benny Benke).

Koil

Rabu, 10 Agustus 2005. BUDAYA
Koil, Pionir dan Arsitek Underground


Aku adalah arsitek/Aku adalah pionir/Bahkan orang buta pun sadar/Aku hanyalah pembual//Tanpa rasa/Tanpa raga/Surga di hati/Terbawa mati//Ikuti rasa/Jejaki halusinasi//Aku adalah arsitek/Merekonstruksi tubuhmu/Bahkan membaptis kesadaran/Menjadikanmu diriku.
TEMBANG hits bertajuk "Mendekati Surga" yang dilantunkan JA Verdianto alias Otong, vokalis Koil Band, di-medley-kan oleh ratusan penggila musik underground. Nomor itu berkumandang di tengah himpitan ribuan penikmat A Mild Live Soundrenaline 2005 di siang terik yang menyengat di Lapangan Brigif XV Kujang II, Cimahi, baru-baru ini. Dalam rangkaian Soundrenaline 2005, keberadaan Koil yang mengusung semiindustrial rock terbilang istimewa. Betapa tidak, di tengah ingar bingar geliat musik beraliran easy listening yang akrab dan ramah dengan selera pasar, Koil tetap setia dengan aliran musiknya: underground. Bahkan grup bentukan 1994 yang diawaki Otong (vokal), Doniantoro (gitar), Imo (gitar), dan Leon Ray Legoh (drum) ini tetap bertahan dengan idealismenya ketika band papan atas seperti Sheila on 7, Peterpan, sampai Superman is Dead dengan cepat mengorbitkan namanya. "Bagi kami, musik bukan hanya masalah laku dan beken," tutur Otong yang aksi panggungnya mengingatkan pada sosok Marilyn Manson. "Lebih dari itu, musik adalah kebebasan dan kepuasan perasaan mengekpresikan kehidupan". Pilihan Koil, yang menurut majalah Time Asia edisi 23 Juni 2003/Vol 161 No 24 disebut sebagai one of Indonesia's biggest underground bands ini, tampaknya berbanding lurus dengan apresiasi pencinta underground Tanah Air. Tengoklah penjualan album Megaloblast Black (2003) yang laku 50.000 kopi. Untuk ukuran band underground, angka tersebut tidaklah mengecewakan. Apalagi Koil mengedarkan kasetnya di bawah bendera indie label yang sangat tidak sebanding jangkauan pemasarannya dibanding dengan major lebel seperti Sony-BMG, Universal, EMI, atau Warner. "Meski sebenarnya untuk ukuran penduduk Indonesia yang mencapai 210 juta, angka itu sangat kecil," ujar Bens Leo, salah seorang pengamat musik Tanah Air. Menurut dia, raihan angka penjualan kaset Koil seharusnya dapat lebih tinggi jika band yang juga menggunakan perangkat komputer sebagai pengembangan musik techno ini, memperbanyak frekwensi pentasnya. "Secara showmanship tampilan mereka di atas panggung apik. Dan kedua, musik mereka masih bisa dinikmati karena tidak terlalu hardcore. Bahkan, dilihat dari sisi seni, Koil bagus". Bens juga menilai, sebagai pelopor musik underground indie, batasan musikalitas Koil terkadang kurang jelas. "Musik underground sebenarnya hanya bagian dari musik rock seperti metal, trash hingga hardcore. Hanya beat-nya saja yang membedakan." "Lirik, musik, dan hidup kami memang dibangun dari satu kerumitan ke kerumitan lainnya. Kami tidak peduli dengan popularitas. Kami hanya peduli dengan kreativitas," jelas Otong, jebolan ITB dan ITENAS ini. Sebagai pionir underground yang masih mempunyai idealisme untuk bertahan di jalur indie, keberadaan Koil telah mencatatkan namanya dalam khazanah musik Indonesia, meski pasar tidak bersahabat dengannya. (Benny Benke-45)

Soundrenaline, Oase Festival Musik Indonesia

Selasa, 09 Agustus 2005. BUDAYA
Soundrenaline, Oase Festival Musik Indonesia
PESTA kembang api yang menghiasi angkasa Lapangan Brigif XV Kujang II, Cimahi, tepat pukul 23.30, Minggu (7/8) malam, menandai usainya rangkaian festival tahunan A Mild Live Soundrenaline 2005 di Bandung. Seiring dengan pesta kembang api yang mendapat sambutan meriah sekitar 45.000 penonton yang secara medley menembangkan ''Kamu Harus Pulang'' yang dikomando oleh Kaka Slank, maka usailah festival musik yang mendapat antusiasme yang luar biasa tersebut. Sebagaimana di Palembang, yang menjadi kota pembuka A Mild Live Soundrenaline 2005, di Cimahi pun festival yang bergulir sejak 2002 ini seolah menjadi oase bagi penikmat musik di daerah Bandung dan sekitarnya. Betapa tidak, dalam hitungan nyaris 12 jam, lebih dari 90 grup band dan musisi Tanah Air mempertontonkan aksi mereka dengan ciri khas masing-masing di tiga panggung berbeda, yang berada dalam satu arena seluas 3 hektare. Dengan hanya mengeluarkan kocek Rp 25.000, penikmat musik bebas menentukan pilihan untuk menekuni band papan atas Indonesia yang paling digemarinya. ''Kami tidak hanya ingin menghadirkan sebuah festival yang menjadi ajang berkumpulnya para musisi terdepan Indonesia,'' tutur Sendi Sugiharto, product grup manager PT HM Sampoerna Tbk. ''Lebih dari itu, festival ini kami harapkan dapat menjadi ajang one stop entertainment bagi penikmat tontonan bermutu.'' Dan hasilnya, festival yang mengusung tema besar Reborn Republic ini memang benar-benar menjadi arena wisata yang menyenangkan. Tiga panggung raksasa yang terbagi dalam dua panggung utama berukuran 18 x 12 x 9 meter yang diperuntukkan bagi band, dan musisi ternama, serta sebuah welcoming stage berukuran 9 x 4,8 x 4 meter untuk band indie dan band pemula yang lolos audisi. Dengan dukungan tata suara 200.000 watt dan tata lampu 500.000 watt serta total tenaga listrik sebesar 1.000.000 watt, seolah mengubah lapangan paramiliter ini menjadi wahana hiburan nan gemerlap. Belum lagi dengan dukungan audio visual berupa lima giant screen, sinar laser dan puluhan wahana permainan yang memanjakan kesenangan. Maka pepaklah jika hingga sampai saat ini, Soundrenaline masih menjadi barometer tertinggi festival musik di Indonesia. Kekurangan. Meski demikian, tetap ada kekurangan dari festival yang kembali akan bergulir di kota Semarang (14/8), Surabaya (21/8), dan dipamungkasi di Pulau Serangan, Bali (28/8) ini. Yaitu, pemilihan jarak arena pergelaran yang dikeluhkan penonton Bandung. ''Cimahi yang berjarak sekitar 20 km dari Bandung, cukup mengkendala,'' ujar Dean Hilman, seorang slanker dari Bandung. Selain itu, kurasi atau pemilihan grup band, teristimewa pada band pemula, sedikit terasa mengganggu kredibiltas Soundrenaline. Tengoklah penampilan pas-pasan Melanie Subono dengan band pengiringnya. Puteri promotor kondang Adrie Subono ini, tidak hanya lemah dalam olah vokal. Musikalitas pengusung genre musik punk ini pun masih jauh panggang dari api, untuk ukuran festival bergengsi sekelas Soundrenaline. Untung saja kekurangan ini mampu ditutup dengan tampilan nan cerlang oleh grup band besar seperti Koil, Naif, Peterpan, PAS band (featuring Nicky Astria), Cokelat, Seurieus, Maliq & D'essentials, Audy, Tere, Melly Goeslaw, Glen Fredly, Superglad, dan dipamungkasi Slank. Lalu apa yang membuat Soundrenaline 2005 ini masih pantas untuk ditekuni? ''Panitia cukup jeli memberikan jatah fifty-fifty antara musisi yang sudah punya nama dan grup band indie,'' puji Bens Leo, salah seorang pengamat musik Indonesia. Menurut Bens, dengan jatah yang sama antara musisi yang sudah punya nama dengan musisi indie yang masih membangun image, maka diharapkan rangsangan untuk melahirkan nama-nama anyar di belantika musik Tanah Air semakin terbuka. Dalam Soundrenaline 2005 yang juga akan menghadirkan tiga grup band dari mancanegara plus aksi Guns 'N Roses Revisited di Pulau Serangan, Bali ini, musik dihadirkan dalam nuansa wisata musik yang menyenangkan, tanpa harus kehilangan bobotnya. (Benny Benke-45)

Indonesia di Mata Maestro Lukis Rusia

Jumat, 05 Agustus 2005. BUDAYA
Indonesia di Mata Maestro Lukis Rusia
JAKARTA-Seperti apakah wajah Indonesia di mata para pelukis papan atas Rusia? Eksotik! Demikian pengakuan singkat maestro lukis Rusia Vladimir Anisimov ketika memperkenalkan 170 lukisan hasil karya pelukis kontemporer Rusia di Galeri Nasional, Jakarta, kemarin. Pengakuan Anisimov yang menggalang kawan-kawanya untuk melakukan perjalanan estetis ke Pulau Madura, Pulau Jawa, dan Pulau Sumatera yang telah berlangsung selama setahun ini, tidak mengada-ada. Puluhan lukisan yang menggambarkan pemandangan, aktivitas, trade mark serta kebudayaan di beberapa pulau itu telah berpindah ke atas kanvas dalam berbagai ukuran.
"Hasil kerja para pelukis Rusia ini adalah buah perantauan mereka dalam mencerap aura dan kebudayaan di Madura, Jawa, dan Sumatera," ujar Anisimov yang juga menyertakan lukisan khas pelukis Rusia yang beraliran romantisme realisme. Sebagai program balasan atas berkelananya para pelukis Rusia di beberapa wilayah Indonesia, para pelukis Indonesia seperti Astari Rasyid, Dwianto, Cusin, dan beberapa nama lainnya melakukan kerja kesenimanan serupa di Rusia. "Sebagaimana semangat penyelenggaraan acara ini, yaitu untuk memperingati 55 tahun hubungan Indonesia dengan Federasi Rusia. Kami para pelukis pun hendak turut memarakkan 60 tahun Indonesia," kata Anisimov. Pameran bertajuk "Russian Art Exhibition-Russian Collection 3" yang secara resmi akan dibuka di Galeri Nasional, 8-20 Agustus ini, digagas oleh Kedutaan Besar Federasi Rusia di Jakarta bekerja sama dengan Bureau of Creative Expedition Moscow. Propaganda. Perihal apakah yang membuat nama para pelukis Rusia tidak seberkibar dan seterkenal nama para sastrawannya, seperi Maxim Gorky, Pushkin, Anton Chekov, Dovtoiyoski dan beberapa nama penting lainnya, di Indonesia? Propaganda, demikian jawaban Anisimov. Hasil karya sastra, pada masa Uni Soviet, menurut dia, atas nama kepentingan politik dan harus disebarkan ke seluruh penjuru dunia. "Dengan demikian diharapkan lewat kisah dan narasinya nama Uni Soviet dikenal ke seantero dunia". Jawaban Anisimov boleh jadi sepihak meski ada benarnya. Meski menurutnya nama para pelukis besar Uni Soviet sangat dikenal juga di berbagai penjuru Eropa. "Bahkan nama mastro lukis Raden Saleh dan Affandi sangat dikenal di negeri kami," katanya sembari memberikan alasan bahwa kedudukan seorang pelukis secara sosial di Rusia masih di bawah sastrawannya. Ke-170 lukisan dari berbagai aliran, mulai dari classic realism, neo-realism, moderism, cubism hingga avangardism yang dipamerkan ini dijual dengan nilai tertinggi sebesar 200 ribu dolar AS. "Kami hanya ingin semakin dekat dengan Indonesia," kata Anisimov, mengatasnamakan maestro lukis Rusia lainnya seperti Viktor Shilov, Tatiana Fedorova, dan Eugeny Demakov. (G20-45)

"Ariel dan Raja Langit"

Senin, 01 Agustus 2005. BUDAYA
"Ariel dan Raja Langit"
Dongeng Bijak Kanak-kanak

DARI manakah nilai-nilai kebijakan semestinya bermula? Dari masa kanak-kanak jawabnya. Demikianlah yang diyakini oleh salah seorang sutradara muda Tanah Air, Harry Dagoe Suharyadi. Lewat film drama musikal anak-anak yang penuh dengan nasihat kebijakan dan kebajikan berjudul Ariel dan Raja Langit, Harry tampaknya memang mengemban misi mulia. "Saya hanya ingin menyajikan kepada anak-anak bagaimana semestinya berpikir dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai moral," ujar sutradara yang film pendeknya, Happy Ending, pernah terpilih sebagai Outstanding Short Film pada The 1st International Pusan Film Festival Korea 1996. Dengan menanamkan nilai-nilai kebajikan sejak dini, Harry berharap film berdurasi 111 menit yang ber-genre drama musikal yang dipadukan dengan sedikit horor suspense ini dapat mengena sasaran. Film yang diperkuat Cornelia Agatha (Mama Ariel), Indy Barenz (Ibu Naga), Donna Harun (Mama Galang), dan Dik Doank sebaga cameo (peran selintas) ini, secara penceritaan berjalan secara hitam putih.Hal ini menjadi maklum. Digarap Sendiri. Dengan mengemban semangat kebijakan akan mengalahkan kebatilan sebagai rumusan klasik dan klise bagi dunia anak, Ariel dan Raja Langit tetap menyimpan "sesuatu". "Sesuatu itu yang saya sajikan itu tentang value (nilai) penting rasa tanggung jawab, setia kawan, tolong menolong, toleransi, serta pentingnya rajin belajar sejak dini," imbuh sutradara Pachinko and Everyone's Happy ini. Film yang keseluruhan penggarapannya mulai dari skenario, kameraman, editing, directing, hingga pembiayaannya diproduseri sendiri oleh Harry ini, menggunakan empat setting penting. "Tempat pembuangan sampah Bantar Gebang di Bekasi, Bandung, dan Pulau Kotok di Kepulauan Seribu". Ada beberapa hal yang membuat film ini menarik bagi anak-anak selain tuntunan pen-tingnya nilai-nilai kebajikan. Akting para pelakon anaknya berjalan dengan kewajaran, naturan, tanpa terlihat dibuat-buat. Sehingga dengan demikian seperti melihat anak-anak dengan dunianya: kenakalan, keiseng-an, konflik, dan kelucuannya. (Benny Benke-45)